New Policy: Konflik Iran Picu Gelombang Anti-AS di Pakistan
Pemicu Protes di Pakistan
Protes menentang Amerika Serikat meledak di Pakistan setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Penyebab utamanya adalah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan tersebut, yang memicu kericuhan di beberapa kota dan meningkatkan risiko bagi kepentingan AS di negara itu.
Kasus Khusus di Karachi dan Islamabad
Beberapa jam setelah serangan, demonstran mulai berkumpul di depan fasilitas diplomatik AS. Aksi unjuk rasa terus berkembang, berubah menjadi bentrokan mematikan. Di Karachi, setidaknya 10 orang tewas dan puluhan lainnya terluka saat massa mencoba memasuki kompleks Konsulat AS. Sementara itu, di Islamabad, aparat keamanan mengeluarkan gas air mata dan peluru tajam saat ribuan pendemo menuju area diplomatik, mengakibatkan korban jiwa dan luka.
“Mohsin Naqvi, Menteri Dalam Negeri Pakistan, meminta pendemo untuk tetap tenang. Ia mengatakan, ‘kami berdiri bersama Anda,’ sambil menyatakan bahwa masyarakat Pakistan turut berduka atas peristiwa tersebut.”
Upaya Pemerintah Meminimalkan Konflik
Setelah bentrokan mengakibatkan kematian beberapa orang, pemerintah Pakistan mengerahkan pasukan tambahan dan menerapkan jam malam selama tiga hari di kawasan Gilgit dan Skardu. Di Skardu, demonstran menyerang kantor United Nations Military Observer Group, sementara di Gilgit terjadi pembakaran fasilitas publik, termasuk kantor polisi. Pembakaran juga dilaporkan terjadi di sekitar Konsulat AS di Lahore.
Dampak Diplomasi dan Sentimen
Protes anti-Amerika terus berlangsung beberapa hari setelah kejadian awal. Pakistan, yang memiliki populasi Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran, mengalami peningkatan sentimen negatif terhadap AS. Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar mengutuk serangan terhadap Iran, menyatakan bahwa negara itu “mengutuk keras serangan yang tidak beralasan terhadap Iran” dan mengajukan pemutusan eskalasi melalui jalur diplomasi. Perdana Menteri Shehbaz Sharif juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei, mengatakan bahwa pemimpin negara seharusnya tidak menjadi sasaran serangan.
“Perkembangan ini menciptakan tantangan baru bagi pemerintah Pakistan dalam menjaga hubungan dengan Washington tanpa memicu tekanan domestik,” ujar Dr. Sakariya Kareem. “Pemimpin Pakistan kini berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan hubungan dengan AS tanpa memicu reaksi publik,” sambungnya.
Kendala dan Peluang Strategis
Dalam rangkaian kericuhan, sejumlah fasilitas AS menjadi sasaran. Konsulat di Karachi membatasi pergerakan staf, sementara konsulat di Peshawar menghentikan operasional sementara. Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan evakuasi sebagian staf non-esensial dari Lahore dan Karachi, mengingat risiko keamanan yang meningkat. Status peringatan perjalanan untuk Pakistan tetap berada pada Level 3, atau “pertimbangkan kembali perjalanan,” dengan beberapa wilayah memiliki risiko lebih tinggi.
Selama konflik berlangsung, China dianggap berpeluang memperkuat posisinya di Pakistan. Penurunan kehadiran diplomatik AS dan meningkatnya sentimen anti-Amerika dianggap sebagai peluang strategis bagi Beijing. Dr. Sakariya Kareem menyoroti bahwa hal ini bisa memengaruhi proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), yang kembali menjadi fokus dalam hubungan bilateral.
Kasus kericuhan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam lingkungan keamanan Pakistan. “Ini bukan lagi sekadar ketegangan diplomatik, tetapi menunjukkan bahwa kehadiran Amerika telah menjadi target,” kata Kareem. Aksi seperti serangan fasilitas diplomatik, evakuasi staf, dan peningkatan peringatan perjalanan menegaskan pergeseran dalam dinamika hubungan internasional.