Topics Covered: Perundingan dengan Iran Mandek, Wapres JD Vance Balik ke AS

Perundingan dengan Iran Mandek, Wapres JD Vance Balik ke AS

Setelah berlangsung selama 21 jam, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran tampaknya mengalami kemacetan. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa hasil negosiasi belum mencapai titik kesepakatan. Ia mengungkapkan bahwa para pejabat AS telah meninggalkan ruang pertemuan dan berniat kembali ke Washington untuk melanjutkan pembicaraan.

Kesiapan dan Mediasi Pakistan

Perundingan damai antara AS dan Iran dimulai pada Sabtu (11/4) setelah kedua pihak sepakat menghentikan konflik pada Rabu (8/4) lalu. Pertemuan ini dipimpin oleh Pakistan sebagai mediator, menjadi pertemuan langsung pertama sejak revolusi Islam 1979. Delegasi AS dipimpin oleh Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujar seorang pejabat Pakistan kepada AFP.

Kendati awalnya optimis, suasana perundingan berubah setelah istirahat singkat. Seorang sumber Pakistan mengungkapkan kepada Reuters bahwa kedua belah pihak mulai menunjukkan perbedaan pendapat. “Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Suhu naik turun selama pertemuan,” katanya.

Permintaan Iran dan Isu Kritis

Dalam pernyataannya, Vance menyebut adanya kekurangan dalam diskusi dan bahwa Iran memutuskan tidak menerima syarat yang ditawarkan AS. Pemerintah Iran, melalui unggahan di X, mengklaim bahwa pembicaraan telah selesai, dengan para ahli teknis berencana menukar dokumen. Namun, mereka mengakui masih terdapat perbedaan pendapat.

“Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan,” demikian pernyataan pemerintah Iran, tanpa memberikan jadwal lanjutan.

Sebelumnya, sumber Iran senior mengungkapkan kepada Reuters bahwa pencairan aset Teheran di Qatar menjadi salah satu tuntutan utama dalam perundingan. Ia menyatakan AS telah setuju melepaskan miliaran dolar dari aset Iran yang dibekukan di Qatar dan bank-bank internasional. Selain itu, Iran menuntut kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh wilayah, termasuk Lebanon.

Selat Hormuz, yang mengalirkan 20 persen minyak dunia, menjadi isu utama dalam negosiasi saat ini. Iran telah menutup selat tersebut sejak perang dimulai. Militer AS pernah mengatakan dua kapal perangnya berhasil melewati jalur maritim itu dan sedang menyiapkan rencana untuk membersihkan ranjau yang ditempatkan oleh Iran. Namun, media Iran membantah bahwa kapal-kapal AS sudah melewati wilayah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *