Key Discussion: Ada 15 Juta Ton, Pupuk Indonesia Pastikan Produksi Aman

Ada 15 Juta Ton, Pupuk Indonesia Pastikan Produksi Aman

Perusahaan Pupuk Indonesia telah menjamin kelancaran produksi mereka meskipun menghadapi risiko gangguan ekonomi. Langkah ini dilakukan dengan memperkuat koordinasi bersama produsen pupuk di wilayah Asia Tenggara. Dalam pernyataannya, Rahmad Pribadi, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, menyebutkan bahwa diskusi intensif telah berlangsung sejak tahun lalu dengan pihak Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemicals Group.

“Makanya sejak tahun lalu kita berdiskusi secara intensif dengan Brunei Fertilizer Industries dan Petronas Chemicals Group,” ujar Rahmad Pribadi.

Rahmad menjelaskan bahwa kolaborasi antar produsen pupuk di kawasan Asia Tenggara perlu ditingkatkan melalui pembentukan platform kerja sama. Platform ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran sumber daya, informasi, serta pengetahuan. Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa membangun rantai pasok yang lebih kuat dan berkelanjutan, yang secara spesifik mendukung stabilitas pangan di kawasan ASEAN.

Di sisi lain, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa produksi pupuk Indonesia tetap aman meskipun terjadi konflik antara Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri acara Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Nusa Dua, Bali. Konflik tersebut menyebabkan penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengangkutan 30 persen dari perdagangan pupuk dunia.

“Ini sekali lagi bahwa dengan gangguan (Perang Iran) ini, saya ingin pastikan bahwa kebutuhan pertanian dan pangan kita aman,” ucap Sudaryono.

Kondisi ini memicu ketidakstabilan pasokan pupuk urea global. Namun, hal tersebut justru memberikan peluang bagi Indonesia sebagai salah satu produsen pupuk terbesar di dunia. Produksi pupuk nasional mencapai sekitar 14,5 hingga 15 juta ton per tahun, yang sebagian besar digunakan oleh petani lokal. Sudaryono menambahkan bahwa ada sisa produksi yang bisa dialokasikan untuk ekspor, dengan jumlah hingga 1,5 juta ton yang diminati oleh beberapa negara.

“Jadi ada sisa gitu ya, ada sisa produksi yang barangkali bisa kita alokasikan untuk ekspor di tahun ini,” ujar Sudaryono.

Dalam konteks ini, beberapa negara telah menghubungi pemerintah Indonesia dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk memastikan pasokan pupuk. Pihak-pihak tersebut bersedia membayar harga yang tinggi demi memenuhi kebutuhan mereka. Harri Kiiski, CEO Brunei Fertilizer Industries, menyoroti pentingnya kerja sama industri, termasuk pertukaran praktik terbaik dan menjaga keberlanjutan investasi.

“Anda bisa bayangkan bahwa ini adalah investasi berjuta-juta dolar yang akan terjadi,” kata Harri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *