Special Plan: Geopolitik Memanas, Emas Digital Jadi Pilihan Aman Investor RI
Geopolitik Memanas, Emas Digital Jadi Pilihan Aman Investor RI
Kenaikan Harga Emas Dipicu Tensi Global
Dalam kondisi ketegangan geopolitik yang meningkat, investasi emas digital di Indonesia semakin tumbuh pesat. Faktor utama penyebabnya adalah serangkaian konflik global, mulai dari Rusia-Ukraina hingga eskalasi terbaru di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikati (AS). Peristiwa ini mendorong para investor mencari aset yang dianggap stabil sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Lonjakan harga emas sekarang bukan fenomena sementara, tapi tren yang terbentuk selama beberapa tahun terakhir,” kata Tirta Karma Senjaya, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Kamis (9/4).
Menurut Tirta, tren kenaikan harga emas terjadi secara bertahap sejak akhir 2023 hingga 2025. Di pasar internasional, harga emas berkisar antara US$4.600 hingga US$5.100 per troy ounce, bahkan sempat mencapai rekor di atas US$5.600 pada awal 2026. Di dalam negeri, harga emas batangan seperti Antam mencapai Rp2,8 juta hingga mendekati Rp3 juta per gram, dengan angka tertinggi pernah terjadi dalam periode tertentu.
Perubahan Preferensi Investor
Tirta menegaskan bahwa emas tetap menjadi instrumen investasi utama di masa ketidakpastian, karena dianggap sebagai aset aman (safe haven). “Dulu dunia terasa damai, tapi setelah perang Rusia-Ukraina, pasar mulai berpikir ini bisa berlanjut lebih jauh,” jelasnya. Banyak negara besar, termasuk Amerika Serikati, juga memperkuat cadangan emas sebagai strategi menghadapi risiko global.
“Selain emas, Donald Trump juga membeli bitcoin untuk cadangan,” tambah Tirta. “Tapi emas lebih dikenal masyarakat, dari usia muda hingga tua, jadi lebih mudah diterima.”
Dalam konteks teknologi digital, Tirta menyebut peningkatan penetrasi gadget dan akses internet di Indonesia mempercepat perpindahan preferensi investasi ke platform online. “Sekarang 280 juta penduduk hampir 70 persen menggunakan internet, sehingga investasi di platform lebih praktis,” ujarnya. Dengan kemudahan ini, masyarakat cenderung memilih emas digital karena kepraktisan, serta keamanan dalam transaksi.
Pembelian fisik emas sering kali menghadapi hambatan seperti ketersediaan, antrean, dan risiko kehilangan. Emas digital, di sisi lain, dianggap lebih efisien karena bisa diakses secara langsung dan cepat. Tren ini semakin menguat di 2025-2026, memperlihatkan pertumbuhan signifikan dalam preferensi investor lokal.