Topics Covered: Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan

Mentan Dengar Curhat Petani Gula Impor Banjiri Pasar: Ini Membahayakan

Pembongkaran Tebu Ratoon dan Langkah Revitalisasi

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebutkan bahwa tebu ratoon—bagian tanaman tebu yang tidak layak diproduksi—telah mencapai tingkat kerusakan sebesar 70 hingga 80 persen. Dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (8/4), ia menjelaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi untuk membongkar sekitar 300.000 hektare tebu ratoon dari total 500.000 hektare tanaman lama. Proses ini akan dilakukan bertahap, 100.000 hektare per tahun selama tiga tahun. Anggaran untuk 2025 mencapai Rp1,7 triliun, sementara alokasi tahun ini belum diungkap secara rinci.

Amran menegaskan bahwa revitalisasi tersebut bertujuan untuk mempercepat pencapaian swasembada gula putih di Indonesia, paling cepat pada 2027. Namun, ia juga menyebutkan bahwa saat ini selisih antara produksi dan kebutuhan gula konsumsi nasional hanya tersisa sekitar 200.000 ton. Produksi gula berada di kisaran 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun, sementara konsumsi mencapai 2,8 juta hingga 2,9 juta ton.

Impor Gula Rafinasi Mengganggu Pasar Lokal

Amran menjelaskan bahwa laporan dari petani mengenai masuknya gula rafinasi impor ke pasar konsumsi sudah masuk ke pihaknya. Gula rafinasi yang seharusnya dikhususkan untuk industri justru membanjiri pasar, bahkan mengancam keberlanjutan produksi lokal. “Kalau bocor (jumlahnya) sedikit. Ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung ditelepon, ada laporan dari petani, itu rafinasi yang langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” ujarnya.

“Produksi kita kurang, tapi molase gula tidak bisa laku. Di Jawa Timur itu terjadi di Oktober, tidak bisa laku. Ada anomali di situ,”

Kondisi ini muncul setelah terungkap bahwa produksi gula nasional terus menurun, sementara produk turunannya seperti molase mengalami kesulitan dalam penyerapan pasar. Harga molase juga anjlok sejak awal 2025 hingga Maret 2026. Pada Februari 2025, harga mencapai Rp1.980 per liter, namun kini turun menjadi sekitar Rp1.024 per liter. “Rembesannya kita ditangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan dan beberapa daerah lainnya. Gula rafinasi, tetapi dimasukkan ke pasar sebagai white sugar atau gula konsumsi. Ini membahayakan,” ujarnya.

Laporan banjir gula rafinasi berasal dari beberapa wilayah seperti Jawa Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Amran mengungkapkan bahwa gula rafinasi impor memiliki standar keputihan yang hampir sama dengan gula putih produksi lokal, sehingga sulit dibedakan dan menimbulkan persaingan tidak sehat di pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *