Important Visit: Waspada Teror ‘Godzilla’ El Nino Mulai April, Kemarau Lebih Panjang?
Peringatan: ‘Godzilla’ El Nino Terjang Indonesia April, Perpanjang Kemarau?
BMKG: Tanda-Tanda Fenomena El Nino Muncul di Awal Tahun
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah daerah di Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal, mulai April 2026. Fenomena El Nino, yang dikenal sebagai ‘Godzilla’ dalam konteks klimatologis, disebut sebagai penyebab utama kondisi ini. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan bahwa indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) saat ini berada di fase Netral dengan nilai -0,28. Kondisi ini diharapkan bertahan hingga Juni, namun peluang fenomena El Nino yang kategori Lemah-Moderat mencapai 50-60 persen mulai semester kedua tahun ini.
Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia, atau 114 zona musim (ZOM), akan memasuki musim kemarau pada April. Wilayah yang terdampak antara lain pesisir utara Jawa barat, pesisir utara dan selatan Jawa Tengah, sebagian besar D.I Yogyakarta, serta bagian dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Keterlibatan Indian Ocean Dipole (IOD) positif diperkirakan akan memperpanjang durasi kekeringan.
“Kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” ujar Faisal dalam keterangan resmi.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa curah hujan tinggi di sejumlah wilayah masih menjadi ciri masa peralihan musim. Intensitas hujan akan berbeda tergantung kapan musim kemarau dimulai.
‘Godzilla’ El Nino: Ancaman Kuat yang Terjang Indonesia
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan El Nino super, yang disebut ‘Godzilla’ El Nino, akan memengaruhi Indonesia mulai April 2026. Fenomena ini diperkuat oleh IOD positif yang berpotensi memperpanjang kemarau. Profesor Riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengungkap bahwa Godzilla El Nino merupakan bentuk El Nino yang sangat kuat, menyebabkan kekeringan lebih parah dan durasi lebih lama.
Erma memperkirakan bahwa El Nino dan IOD positif akan berlangsung bersamaan sepanjang musim kemarau, dari April hingga Oktober 2026. Dampaknya bisa mengakibatkan penurunan curah hujan signifikan di wilayah selatan garis ekuator, seperti Jawa, Sumatra Selatan, Nusa Tenggara, dan Papua. Dampak ini berisiko mengganggu pasokan air dan menyebabkan gagal panen, khususnya di Pantai Utara Jawa.
“Ini jelas berpotensi menjadi ‘Godzilla El Nino’,” kata Bill Patzert, ahli klimatologi NASA, pada 2015.
Berbeda dengan istilah teknis, ‘Godzilla’ El Nino merupakan penggolongan informal yang diperkenalkan oleh Patzert setelah suhu Samudra Pasifik timur mengalami kenaikan drastis, memicu berbagai bencana alam global. Prediksi BRIN menunjukkan bahwa kondisi ini bisa mengulangi dampak serius seperti pada tahun 2023, ketika wilayah selatan ekuator mengalami kekeringan massal di bulan Juni-September.
Wilayah utara Indonesia, di sisi lain, diperkirakan masih mengalami curah hujan tinggi, yang berpotensi menyebabkan banjir di Sumatra Utara dan Kalimantan Tengah. Prediksi BMKG menekankan bahwa puncak kemarau akan terjadi di sebagian besar wilayah pada Agustus 2026, dengan 61,4 persen luas Indonesia terkena dampak. Namun, sekitar 14,3 persen wilayah akan mencapai puncak kekeringan di September, dan 12,6 persen di Juli.