Key Discussion: BYD Beber Kronologi Kasus Mobil Akbar Faizal: Bermula dari Kecelakaan

BYD Beber Kronologi Kasus Mobil Akbar Faizal: Bermula dari Kecelakaan

Perusahaan otomotif BYD Indonesia menjelaskan bahwa masalah mobil listrik Seal milik politikus senior Akbar Faizal berawal dari insiden kecelakaan yang terjadi di akhir tahun 2025, bukan dari kecacatan produk. Luther Panjaitan, Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, menyebut bahwa kejadian tersebut dimulai pada bulan Desember 2025, saat kendaraan digunakan oleh anak Akbar dan mengalami tabrakan.

Kerusakan yang terjadi cukup parah, terutama pada bagian roda, sehingga memerlukan perbaikan signifikan. Setelah kendaraan dibawa ke bengkel resmi BYD, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa penggantian komponen roda baru dianjurkan. Namun, pihak konsumen memutuskan menunda proses perbaikan agar bisa mengurus klaim asuransi secara mandiri.

“Sebenarnya, yang menggunakan kendaraan itu adalah anaknya, dan kejadian dimulai dari kecelakaan,” kata Luther melalui pesan singkat, Senin (13/4).

Dalam Februari 2026, dealer berusaha membantu proses pengajuan ke asuransi. Namun, kondisi mobil kian memburuk karena tetap digunakan selama sekitar satu setengah bulan meski roda masih dalam kondisi tidak optimal. “Dealer berupaya agar bisa mendapatkan persetujuan dari asuransi, tetapi mekanisme perbaikan mengacu pada hasil di Desember. Solusi belum memadai, dan mobil sudah terlihat rusak setelah masa penggunaan yang diperpanjang,” tambah Luther.

Setelah perbaikan dilakukan, keluhan kembali disampaikan oleh pihak pengguna, yakni anak Akbar. Meski demikian, komunikasi terus berlangsung antara konsumen, dealer, dan pihak asuransi. Selasa, 8 April 2026, Luther menyatakan bahwa pihaknya telah bertemu langsung dengan konsumen dan asuransi. Dalam pertemuan tersebut, asuransi setuju untuk meninjau ulang proses perbaikan (resubmit) dan menyetujui penggantian roda yang dijadwalkan pada 11 April 2026.

“Namun pada 10 April, bapak AF belum terupdate dan sudah mengunggah kekecewaannya di media sosial,” ujar Luther.

Luther juga mengakui adanya miskomunikasi akibat melibatkan beberapa pihak, padahal sebelumnya konsumen berniat mengurus masalah sendiri. “Beliau lebih fokus ke lembaga keuangan, dan terkesan sedikit menekan AF, meski memang ada penundaan pembayaran,” lanjutnya.

Saat ini, fokus utama BYD adalah memastikan penyelesaian masalah secara cepat dan tepat. “Kami sedang mengkonsolidasi semua pihak agar tidak terjadi kesalahpahaman kembali,” tutur Luther.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *