Main Agenda: Krisis Timteng, Stabil Harga BBM, dan Asa Para Pencari Nafkah Ibu Kota

Krisis Timteng, Harga BBM Stabil, dan Harapan Pencari Nafkah Jakarta

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat mengakibatkan penutupan Selat Hormuz, yang berdampak signifikan pada ekonomi global. Selat ini menjadi jalur utama bagi sekitar 25 persen distribusi minyak dunia, sehingga krisis energi di wilayah tersebut memicu ketegangan di sektor bahan bakar. Indonesia, salah satu negara yang terkena imbas, berupaya menjaga ketersediaan BBM agar tidak mengganggu mobilitas warga. Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, terutama sebagai bentuk dukungan terhadap masyarakat yang bergantung pada kendaraan bermotor.

Febrynos, Kurir Paket Online

Kurir paket Febrynos menyambut baik kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga BBM. Sebagai pengguna sepeda motor, ia mengirimkan ratusan paket setiap hari. Jika BBM naik tanpa ada penyesuaian tarif jasa pengiriman, bisnisnya akan terancam. Febrynos mengakui bahwa penggunaan BBM jenis pertamax tetap menjadi pilihan utama karena intensitas pemakaiannya yang tinggi. Ia mengatakan, “Empat hari Pertamax, dua hari Pertalite. Soalnya motor saya kan motor capek mas. Istirahatnya kalau saya libur saja sama kalau saya istirahat makan.”

“Kalau dari saya sebagai kurir sih (kebijakan harga BBM tidak naik) tepat ya,” ujar Febrynos, Rabu (8/4).

Gani, Driver Ojol

Driver ojek online Gani mengakui bahwa kenaikan harga BBM sulit dihindari karena tekanan dari krisis Timteng. Namun, ia berharap tarif ojek online juga disesuaikan jika BBM harus naik. “Mau enggak mau ya. Yang penting kenaikan harganya harus diikuti dengan kenaikan tarif ojek online,” tuturnya.

“Bagus. Pemerintah masih pro rakyat walaupun kita lihat lagi ada perang,” kata Gani.

Paung Pahruri, Ojek Pangkalan

Ojek pangkalan Paung Pahruri mengungkapkan rasa syukur karena harga BBM tetap stabil. Sebagai penarik ojek sejak 1995, ia menggunakan pertalite sebagai bahan bakar utama. “Enggak jadi naik. Alhamdulillah syukur,” ujarnya.

“Pakai kendaraan seperlunya aja. Enggak usah keluar kalau enggak perlu,” katanya.

Kebijakan pemerintah ini memberikan harapan besar bagi para pekerja yang mengandalkan sepeda motor untuk mencari nafkah. Meski harapan tersebut tidak bisa diwujudkan langsung, Febrynos, Gani, dan Paung Pahruri tetap bersyukur atas langkah yang diambil. Mereka mengharapkan adanya insentif tambahan, seperti akses ke sepeda motor listrik, untuk membantu mengurangi beban biaya bahan bakar. Sementara itu, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa harga BBM non-subsidi masih dalam evaluasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *