Meeting Results: 4 Daftar Pernyataan Trump yang Kerap Mencla-Mencle soal Iran

4 Daftar Pernyataan Trump yang Kerap Mencla-Mencle soal Iran

Sejak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari 2026, Presiden Donald Trump sering kali mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang. Pernyataan ini membingungkan sekutu maupun publik internasional, karena terus berubah seiring berjalannya perang selama lebih dari satu bulan. Beberapa kali, Trump menyampaikan pesan yang berbeda, mulai dari klaim perang akan segera berakhir hingga ancaman serangan besar.

1. Alasan Serangan Iran yang Berubah-ubah

Awalnya, Trump mengungkapkan kecamannya terhadap Iran karena gelombang demonstrasi yang terjadi sejak akhir Desember. Ia menyebut Teheran telah membunuh ribuan orang dan mengancamkan hukuman gantung. “Saat mereka mulai membunuh ribuan orang dan sekarang Anda memberitahu saya soal hukuman gantung. Kita akan lihat bagaimana konsekuensinya bagi mereka,” ujar Trump.

“Saat mereka mulai membunuh ribuan orang dan sekarang Anda memberitahu saya soal hukuman gantung. Kita akan lihat bagaimana konsekuensinya bagi mereka.”

Tetapi setelah serangan AS-Israel dimulai, alasan utama berubah menjadi upaya menghentikan program nuklir Iran. “Satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor terorisme terbesar di dunia memiliki senjata nuklir,” kata Trump. Kini, ia menyatakan operasi militer dilakukan untuk mendukung sekutu Washington di Timur Tengah.

“Kami tidak membutuhkan minyak mereka. Kami tidak membutuhkan apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami.”

2. Tidak Ingin Perang Berlarut, Tapi Mengancam Serangan Besar

Dalam sebuah pernyataan, Trump menyatakan ingin segera mengakhiri perang dengan Iran dalam beberapa pekan untuk menghindari konflik berkepanjangan. Namun, sikap ini bertolak belakang dengan ancamannya untuk menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

“Dalam dua hingga tiga pekan ke depan, kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dan membawa mereka kembali ke masa keterbelakangan.”

Trump juga menegaskan tidak akan mengungkap waktu pasti serangan dihentikan, meskipun ia berulang kali menyebut kemungkinan pembukaan Selat Hormuz sebagai prioritas utama.

3. Perubahan Sikap terkait Selat Hormuz

Sekitar satu bulan setelah konflik memanas, Trump mengirimkan pesan yang berbeda terkait Selat Hormuz. Ia awalnya meminta penasihat untuk mengerahkan kekuatan militer guna membuka blokade dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Namun, sekutu seperti NATO tidak banyak merespons, kecuali Israel.

“Kami tidak perlu berada di sana. Kami tidak membutuhkan minyak mereka atau apa pun yang mereka miliki. Kami berada di sana untuk membantu sekutu kami.”

Belakangan, Trump memberi sinyal siap mengakhiri perang meski Selat Hormuz belum dibuka. Menurut sumber dalam pemerintahan AS, Trump mempertimbangkan menghentikan operasi lebih dulu, lalu membahas pembukaan selat tersebut. Namun, ia juga mengancam akan menargetkan infrastruktur energi Iran, termasuk sumur minyak, jika Teheran belum membuka kembali jalur tersebut.

“Dilansir Al Jazeera, pada Minggu (30/3), Trump sempat menyatakan keinginan untuk ‘mengambil minyak’ Iran seiring konflik memasuki bulan kedua.”

Rangkaian pernyataan yang berubah-ubah ini memperlihatkan inkonsistensi Trump dalam menghadapi konflik Iran. Kebingungan juga terjadi di kalangan sekutu dan publik internasional, karena ia memperlihatkan pandangan yang berbeda dari waktu ke waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *