Facing Challenges: Jarang Bercinta Setelah Menikah, Normal atau Masalah?
Jarang Bercinta Setelah Menikah, Normal atau Masalah?
Setelah menikah, hubungan seksual sering menjadi tolok ukur keharmonisan dalam pasangan. Namun, dalam praktiknya, banyak pasangan mengalami penurunan frekuensi hubungan intim seiring waktu. Kondisi ini memicu pertanyaan, apakah hal ini wajar, atau menandai adanya masalah? Seksolog Febrizky Yahya menjelaskan, tidak ada patokan pasti mengenai seberapa sering pasangan harus berhubungan seksual.
Kunci Utama: Keselarasan, Bukan Frekuensi
Dalam bidang seksologi, jumlah hubungan seksual tidak menjadi dasar mutlak untuk menilai apakah keharmonisan seksual dianggap normal atau tidak. Hal ini sangat subjektif, seperti yang diungkapkan Febri kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/4). “Yang menentukan adalah kesesuaian antara dua pihak, bukan angka,” katanya.
“Yang jadi masalah itu bukan frekuensinya, tapi kalau ada gap. Ibaratnya lapar, tapi tidak tersalurkan,” jelas Febri.
Penurunan intensitas hubungan seksual pasca-pernikahan bukanlah fenomena langka, dengan berbagai penyebab yang muncul. Salah satu faktor utama adalah perubahan peran setelah memiliki anak. Masa menyusui, misalnya, memengaruhi hormon dan menurunkan dorongan seksual.
“Hormon prolaktin meningkat saat menyusui, itu bisa menurunkan libido. Belum lagi kelelahan, kurang tidur, dan fokus ke bayi,” kata Febri. Selain itu, kondisi medis seperti diabetes, hipertensi, atau peningkatan berat badan juga berdampak pada gairah seksual.
Faktor Emosional: Dampak Tersembunyi
Faktor emosional tak kalah penting. Konflik yang tak terselesaikan, perdebatan yang diabaikan, atau luka batin yang terpendam dapat membuat pasangan enggan bersikap intim. Banyak pasangan yang fokus pada peran sebagai orang tua hingga melupakan kebutuhan sebagai pasangan.
“Kadang mereka merasa hubungan sudah jauh atau tidak cinta lagi. Padahal bisa jadi yang redup itu passion-nya,” ujar Febri. Ia menekankan bahwa keharmonisan dalam hubungan bisa dibangun kembali selama ada kesadaran dan usaha saling memahami.
Kesimpulan: Komunikasi Lebih Penting
Banyak orang mengaitkan frekuensi hubungan seksual dengan kadar cinta dalam pernikahan. Namun, Febri memperjelas bahwa keduanya tidak selalu seiring. Pasangan yang jarang bercinta mungkin sedang lelah atau mengalami perubahan hidup.
“Bisa saja mereka lagi capek, lagi fokus ke anak, atau kehilangan koneksi sebagai pasangan. Tapi itu bisa dibangun lagi,” katanya.
Kehidupan seksual dalam pernikahan bukan soal angka, tetapi seberapa dalam pasangan saling memahami. Komunikasi yang terbuka dan usaha untuk menjaga hubungan menjadi elemen kritis dalam menjaga keharmonisan, meski frekuensi tetap menjadi bagian dari dinamika hubungan.