Main Agenda: Waspada, Screen Time Berlebihan Berisiko Speech Delay pada Anak
Waspada, Screen Time Berlebihan Berisiko Speech Delay pada Anak
Di tengah perkembangan era digital, perangkat elektronik kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian, termasuk dalam kehidupan anak-anak. Aktivitas seperti menonton video, bermain game, atau belajar melalui layar telah menjadi kebiasaan yang umum. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini bisa memengaruhi kemampuan bicara si kecil, terutama jika durasinya terlalu lama.
Berdasarkan laporan National Institutes of Health (NIH), sebanyak 25,5 persen dari 192 anak yang diteliti mengalami keterlambatan bicara. Risiko ini meningkat seiring jumlah waktu yang dihabiskan menonton layar. Dalam penelitian tersebut, anak yang menghabiskan lebih dari 4 jam per hari di depan layar memiliki peluang 40 persen mengalami speech delay. Selain itu, angka ini lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan—sekitar 32,7 persen dan 17 persen masing-masing.
Penelitian ini menegaskan bahwa durasi penggunaan layar lebih dominan memengaruhi kemajuan bahasa dibandingkan jenis konten yang ditonton. Interaksi langsung, seperti ngobrol, bermain, atau membaca bersama, tetap menjadi faktor kunci dalam pengembangan kemampuan berbicara anak.
Sebuah jurnal yang diterbitkan menambahkan bukti serupa, menunjukkan bahwa anak usia 2-5 tahun dengan screen time tinggi mengalami keterlambatan bicara hingga 52,8 persen. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kelompok dengan paparan layar lebih sedikit. Dalam studi tersebut, lebih dari separuh responden tercatat mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa.
Para peneliti juga menyoroti bahwa penggunaan gadget lebih dari 60 menit per hari secara rutin berpotensi meningkatkan risiko gangguan bahasa. Meski tidak perlu dilarang sepenuhnya, kuncinya adalah pembatasan durasi dan pengawasan orang tua. Anak yang sering diajak berkomunikasi cenderung lebih cepat berkembang dalam kemampuan bicara, sementara screen time tanpa interaksi bisa memperbesar risiko speech delay.
Menariknya, lingkungan multilingual (menggunakan lebih dari satu bahasa) justru mengurangi kemungkinan keterlambatan bicara. Hal ini menunjukkan bahwa variasi lingkungan komunikasi memiliki dampak positif. Jika ada tanda-tanda anak kesulitan mengucapkan kata sederhana, menyusun kalimat, atau merespons saat berbicara, sebaiknya segera konsultasi dengan dokter spesialis anak.
Teknologi tak bisa dihindari, tetapi penggunaannya harus bijak agar tumbuh kembang anak tetap optimal. Kombinasi antara waktu layar dan interaksi nyata adalah formula terbaik untuk memastikan kemampuan berbicara si kecil berkembang secara seimbang.