Visit Agenda: Ancaman Timbal pada Anak, Bisa Turunkan IQ hingga Penyakit Kronis
Ancaman Timbal di Indonesia: Dampak pada IQ dan Risiko Penyakit Kronis
Dampak dari paparan timbal terus mengancam kesehatan anak-anak di seluruh negeri. Meskipun tidak terlihat secara langsung, logam berat ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai saluran, seperti udara, makanan, air, hingga bahan-bahan sehari-hari seperti cat dan permainan. Data dari Surveilans Nasional menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal di darah yang melebihi ambang batas. Pemantauan dilakukan di enam provinsi, yaitu Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Salah satu sumber timbal yang sering diabaikan adalah cat yang mengelupas di dalam rumah.
“Cat sebenarnya tidak membahayakan, tetapi kadar timbal yang tinggi dapat mengurangi kesehatan jangka panjang,” kata Yuni Krisyuningsih Krisnandi, ahli kimia dan Guru Besar Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Indonesia dalam keterangannya saat hadir di forum Ngobras tentang “Ruang Lebih Sehat Melalui Material Bangunan Aman”, Rabu (8/4).
Timbal adalah logam yang secara alami terdapat di lingkungan dan digunakan secara luas dalam industri karena sifatnya yang stabil, fleksibel, serta tahan terhadap korosi. Masuknya timbal ke dalam tubuh bisa terjadi secara tidak sengaja, baik melalui penebaran oleh debu, serpihan cat usang, tanah tercemar, maupun bahan-bahan di sekitar tempat tinggal. “Karena sifat akumulatifnya, paparan timbal dalam jumlah kecil selama waktu lama tetap memengaruhi fungsi tubuh,” tambah Reza Fahlevi, dokter spesialis anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Dampak Serius pada Otak Anak
Organ yang paling rentan terhadap timbal adalah otak. Gejala awal sering dianggap remeh, seperti sakit kepala, gangguan ingatan, dan penurunan kemampuan fokus. Namun, jika paparan terus-menerus atau dalam kadar tinggi, efeknya bisa sangat berat. “Di lingkungan industri, timbal bisa menyebabkan gangguan kesadaran hingga koma,” jelas Reza. Logam ini menembus lapisan otak dan menumpuk, sehingga mengganggu perkembangan kognitif. “Ini memengaruhi IQ, daya tangkap, dan kemampuan anak, mengurangi potensi optimalnya,” tegasnya.
Timbal dan Risiko Penyakit Ginjal
Di samping otak, ginjal juga rentan terhadap dampak timbal. Logam ini mengganggu proses penyaringan racun, keseimbangan elektrolit, dan regulasi tekanan darah. “Paparan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang irreversible, bahkan mengarah pada penyakit kronis,” ujar Reza. Selain itu, timbal juga menyimpan dalam tulang, menghambat pertumbuhan anak, dan meningkatkan risiko osteoporosis serta patah tulang di masa depan. Nutrisi seperti zat besi dan kalsium yang penting untuk kecerdasan dan pertumbuhan tulang juga bisa terganggu.
Timbal Sejak Dalam Kandungan
Penyebaran timbal tidak hanya terjadi setelah lahir. Logam berat ini mampu menembus plasenta dan ditransfer ke janin selama kehamilan. “Ibu hamil yang terpapar timbal dalam jumlah besar berisiko mengalami keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan berat rendah,” jelas Reza. Kondisi ini bahkan berpotensi menciptakan generasi yang tidak mencapai kemampuan intelektual maksimalnya.
Untuk mencegah kerusakan, orang tua harus waspada terhadap sumber timbal di lingkungan sekitar. Langkah seperti menjaga kebersihan rumah, menghindari debu dan cat lama, serta memastikan asupan nutrisi anak memadai bisa menjadi solusi sederhana. “Pencegahan adalah kunci. Pastikan lingkungan anak bebas timbal dan nutrisinya terpenuhi agar risiko bisa diminimalkan,” pungkas Reza.