New Policy: Dipolisikan GAMKI, JK Bantah Pernyataannya di UGM Nista Ajaran Kristen

Dipolisikan GAMKI, JK Bantah Pernyataannya di UGM Nista Ajaran Kristen

Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden RI, melalui juru bicaranya Husain Abdullah, membantah tudingan bahwa ia menistakan ajaran Kristen. Tudingan ini datang dari laporan polisi yang diajukan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan beberapa organisasi lain. Husain menjelaskan bahwa pernyataan JK dalam ceramah di Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu memicu kontroversi, terutama terkait istilah ‘mati syahid’ yang digunakan untuk menggambarkan kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon.

“Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks. Kami membantah dengan tegas tuduhan tersebut,” ujar Husain dalam konfirmasi tertulis, Minggu (12/4) malam.

Husain menegaskan bahwa pernyataan JK saat berpidato di Masjid Kampus UGM, Yogyakarta, pada Kamis (5/3) tidak mengandung niat menistakan agama. Ia menjelaskan bahwa JK ingin menyampaikan bahwa tidak ada agama di dunia yang mengajarkan umatnya saling membunuh. Pernyataan ini dilakukan dalam rangka menggambarkan upaya JK mendamaikan konflik Poso dan Ambon di akhir dekade 1990an.

Konflik Poso dan Ambon, yang terjadi pada awal 2000an, menurut Husain, awalnya diakibatkan oleh penggunaan jargon agama sebagai alasan pembenaran. Kedua kelompok, Islam dan Kristen, saling menyatakan perang suci dan mengklaim bahwa membunuh lawan adalah bentuk kebaikan. “Ini fakta sejarah yang sudah terlewatkan oleh para pelaku konflik,” tambah Husain.

JK, sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) pada 2001, berperan sebagai mediator dalam Perundingan Malino I untuk Poso dan Perundingan Malino II untuk Ambon. Ia melibatkan tokoh agama, pemimpin lapangan, tokoh masyarakat, serta pemerintah untuk bermediasi. “JK menyampaikan bahwa agama tidak membolehkan umatnya saling membunuh,” jelas Husain.

Sebelumnya, DPP GAMKI bersama Dewan Pakar Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Asosiasi Pendeta Indonesia (API), dan organisasi lain melaporkan JK ke kepolisian. Mereka mengkritik pernyataan yang dinilai menggambarkan agama Kristen sebagai pelaku pembunuhan. Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Sinurat, menyatakan bahwa frasa ‘syahid’ yang disampaikan JK menimbulkan kegaduhan dan menyakiti hati umat Kristen.

Sahat menegaskan bahwa ajaran Kristen justru menekankan cinta kepada sesama, termasuk musuh. Ia menilai pernyataan JK kurang tepat karena konflik Poso dan Ambon, meski bernuansa agama, awalnya disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, dan transmigrasi. “Ini perlu diperjelas agar tidak ada kesalahpahaman,” tutur Sahat.

JK, sebagai tokoh asli Sulawesi, berperan aktif dalam proses mediasi di Malino, Sulawesi Selatan, yang berhasil menyelesaikan dua konflik besar itu. Husain menambahkan bahwa penjelasan JK bertujuan mengoreksi pemahaman yang keliru tentang peran agama dalam konflik tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *