Visit Agenda: Heboh Siswa SMP Gresik Kena Peluru Nyasar Marinir, TNI AL Buka Suara
Heboh Siswa SMP Gresik Kena Peluru Nyasar Marinir, TNI AL Buka Suara
Korps Marinir TNI AL memberikan pernyataan resmi terkait insiden peluru nyasar yang mengenai siswa SMPN 33 Gresik, Jawa Timur, DFH (14). Peristiwa ini terjadi pada 17 Desember 2025, sekitar pukul 10.00 WIB, saat DFH dan sejumlah siswa lain sedang mengikuti kegiatan sosialisasi di musala sekolah. Peluru diperkirakan berasal dari latihan tembak prajurit di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, yang berjarak sekitar 2,3 kilometer dari lokasi kejadian.
Dalam keterangan resmi, TNI AL menyatakan bahwa peluru yang mengenai DFH dan temannya, R, bersarang di bagian punggung tangan serta punggung kanan bawah. Kedua korban langsung dibawa ke RS Siti Khodijah Sepanjang, Sidoarjo, untuk perawatan. Perwakilan TNI AL menemui keluarga korban dan mengakui latihan tersebut melibatkan empat batalyon, yakni Zeni, Angmor, POM, dan Taifib.
“Satuan bergerak cepat melakukan koordinasi dan pendalaman di lapangan. Kami juga memastikan kedua korban mendapatkan tindakan medis,” kata Mayor Ahmad Fauzi, Perwira Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir, dalam video keterangan resminya, Jumat (3/4).
Fauzi menegaskan bahwa asal peluru masih dalam penyelidikan, meski pihak TNI AL telah memberikan perawatan lengkap di RS Siti Khadijah, termasuk biaya operasi pengangkatan proyektil, perawatan selama pemulihan, dan santunan kepada keluarga. Namun, keluarga korban mengeluhkan adanya tekanan selama proses perawatan.
“Proses mediasi tidak berjalan sesuai harapan karena pihak pelapor mengajukan tuntutan ganti rugi materiil dan immateriil dengan nominal Rp3.375.000.000 untuk kedua korban,” jelas Fauzi.
Mayor Fauzi juga membantah tuduhan intimidasi terhadap keluarga korban. Ia menyatakan bahwa kehadiran perwira di rumah sakit bertujuan untuk memperjelas aspek teknis proyektil dan dilakukan secara terbuka tanpa tekanan. “Kami tidak pernah melakukan tindakan intimidatif. Kehadiran petugas hanya untuk pendalaman teknis,” tambahnya.
Selain itu, Fauzi menegaskan TNI AL tetap membuka ruang dialog dengan keluarga korban. Ia mengungkapkan bahwa salah satu orang tua korban dari R telah menyetujui penyelesaian melalui jalan kekeluargaan. “Korps Marinir tidak menunggu viral untuk bertindak. Jika ada kesalahan, pasti ditindak. Kami mengajak semua pihak menjaga suasana tetap tenang,” pungkas Fauzi.
Sebelumnya, ibu DFH mengatakan bahwa lengan anaknya tidak bisa ditekuk atau diluruskan secara normal akibat serpihan peluru. Ia juga menyebutkan adanya tekanan selama perawatan di rumah sakit, meski detailnya belum dijelaskan secara rinci.