Key Strategy: BI Buka Suara soal Rupiah Tembus Level Terendah Sepanjang Sejarah
BI Buka Suara Soal Rupiah Tembus Level Terendah Sepanjang Sejarah
Nilai tukar rupiah mencatatkan titik terendah dalam sejarah pada Selasa (7/4), dengan kurs mencapai Rp17.105 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah penurunan 70 poin atau 0,41 persen dari transaksi sebelumnya. BI mengungkapkan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama di tengah kondisi ekonomi global yang kacau.
Strategi BI untuk Memastikan Stabilitas
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa Bank Sentral akan memaksimalkan instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki, termasuk kebijakan OM, untuk menjaga konsistensi kurs. “BI secara konsisten memastikan kehadiran mereka di pasar uang, termasuk pasar spot, DNDF, serta NDF di pasar offshore,” tambah Destry dalam pernyataan resmi.
“BI secara konsisten memastikan kehadiran mereka di pasar uang, termasuk pasar spot, DNDF, serta NDF di pasar offshore,” ujar Destry dalam pernyataan resmi.
Analisis Dampak Konflik Timur Tengah
Kenaikan harga komoditas akibat konflik Timur Tengah berdampak ganda, sebab selain meningkatkan inflasi, posisi Indonesia sebagai negara eksportir juga memberi kontribusi positif terhadap perekonomian. Destry menekankan bahwa BI siap mengimbangi tekanan kurs yang diakibatkan oleh ketegangan tersebut.
“Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, rupiah pernah mencapai level terendah pada tahun 1998, yakni Rp16.800 per dolar AS. Meski mengalami penurunan terbaru, kurs referensi BI, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), menempatkan rupiah di posisi Rp17.092 per dolar AS, yang sedikit lebih baik dari level sebelumnya.