Ini Penemu Minyak Iran Pertama hingga Mengubah Wajah Timur Tengah
William Knox D’Arcy: Tokoh yang Mengubah Sejarah Minyak Iran
Kekayaan minyak menjadi faktor penting dalam keberhasilan negara-negara Timur Tengah, baik dalam perang maupun perebutan kekuasaan. Iran, salah satu negara awal yang menggali minyak secara massal, berada di garis depan perubahan besar dalam sejarah wilayah tersebut. Di balik kejayaan itu, ada sosok mendasar yang memulai perjalanan pertama: William Knox D’Arcy.
Perjalanan Awal dan Keberhasilan Sebelumnya
Lahir di Devon, Inggris, pada 11 Oktober 1849, William menempuh pendidikan di Westminster School, London, antara tahun 1863 hingga 1865. Sebelum mengeksplorasi minyak di Iran, ia sudah terbukti sukses dalam bidang spekulasi tanah dan saham emas, pengalaman yang menjadi fondasi untuk langkah besar berikutnya.
Kontrak Eksklusif di Iran
Pada 1900, William didekati oleh seorang teman lama dan mantan duta besar Inggris untuk Teheran, yang membawa usulan eksplorasi minyak. Dalam kesepakatan berdurasi enam puluh tahun, ia mendapatkan hak monopoli untuk mengeksplorasi, memproduksi, dan memasarkan minyak, gas alam, aspal, serta ozokerit di wilayah Iran. Sebagai imbalan, pemerintah Iran menerima pembayaran sebesar £20.000 tunai, £20.000 dalam bentuk saham, dan 16 persen dari keuntungan tahunan.
Pengeboran dimulai dengan antusiasme tinggi, tetapi selama dua tahun tidak ada hasil yang signifikan. Dengan kekurangan dana, William memutuskan menggadaikan saham perusahaan Mount Morgan miliknya. Kebetulan berharga terjadi enam hari setelah kontrak diperbarui: timnya menemukan ladang minyak terbesar dalam sejarah dunia. Penemuan ini, yang terjadi pada 26 Mei 1908, membuat William menjadi pemilik tunggal cadangan minyak Iran.
Dari 1920-an hingga 1940-an, kekayaan minyak Iran menjadi tulang punggung ekonomi Inggris. Mobil, truk, dan bus kerajaan serta industri menggunakan bahan bakar yang dihasilkan dari negara tersebut. Kontrak dengan Angkatan Laut Kerajaan juga memastikan pasokan minyak stabil dengan harga yang lebih terjangkau, memengaruhi pergerakan dua Perang Dunia.
“William adalah kisah bisnis luar biasa karena perannya dalam dua proyek sukses yang berbeda sisi dunia. Namun yang lebih penting, kontribusinya dalam penemuan minyak Timur Tengah dan dampaknya terhadap sejarah bisnis serta politik hingga kini,” kata Profesor Geoffrey Blainey, sejarawan Australia.
William meninggal pada 1 Mei 1917 di Stanmore Hall, usia 67 tahun, akibat bronkopneumonia. Ia meninggalkan warisan harta yang setara dengan 50 juta Poundsterling saat ini. Perannya tidak hanya mengubah wajah Iran, tetapi juga menjadi pilar ekonomi dan geopolitik Timur Tengah modern.