Kenapa Warga Iran yang Mau Tumbangkan Rezim Berbalik Kutuk Israel-AS?

Kenapa Warga Iran yang Mau Tumbangkan Rezim Berbalik Kutuk Israel-AS?

Banyak warga Iran yang sebelumnya mengharapkan kemenangan Amerika Serikat dan Israel dalam menggulingkan pemerintahan, kini mulai merasa kecewa. Aksi militer yang dilakukan oleh kedua negara tersebut menargetkan infrastruktur Iran, menyebabkan ratusan korban dan merusak fasilitas penting. Leila, seorang perempuan berusia 25 tahun, awalnya percaya bahwa runtuhnya rezim akan membawa perubahan positif. “Saya rasa ini sudah berakhir. Saya yakin Republik Islam akan berakhir,” katanya. “Saya bahkan mengira AS dan Israel sudah sepakat dengan Reza Pahlavi untuk merancang masa depan Iran,” tambahnya.

Sejumlah pelajar yang sebelumnya optimis tentang perubahan, kini mulai kecewa setelah melihat dampak serangan udara. “Mereka juga berbohong! Seperti rezim yang sudah lama menipu kita,” ujar Amir, mahasiswa di Universitas Teheran. “Kalian semua sama buruknya. Kalian sama buruknya,” timpal seorang pelajar lain. Awalnya, mereka berharap AS dan Israel akan membawa keadilan, dengan cepat membunuh tokoh paling berkuasa di Iran. Namun, rezim tetap berdiri, sementara putra Ayatollah Ali Khamenei langsung diangkat sebagai penggantinya.

“Mengapa mereka menyerang jembatan? Mengapa hancurkan jalur kereta api? Mengapa menargetkan depot minyak?” tanya Leila, menggelengkan kepala. “Bagaimana cara itu bisa membantu mengubah pemerintahan?”

Penyerangan yang intensif membuat rasa harapan warga Iran terhadap AS dan Israel menghilang. Leila, yang sebelumnya percaya perang akan berlangsung singkat, kini menyadari bahwa serangan tersebut merusak kehidupan masyarakat secara luas. “Kami tegang. Kami benar-benar tegang,” katanya. “Aku merasa lebih buruk saat sendirian. Kematian Khamenei membuat kami merasa hampa, seolah masa depan terlihat semakin kacau.”

Ali, 29 tahun, juga mengalami perubahan pikiran. Awalnya, ia percaya perubahan bisa tercapai melalui kekerasan. Tapi setelah data korban mencapai 3.117 orang, termasuk demonstran, pasukan keamanan, dan warga sipil, keyakinannya runtuh. “Mereka mengatakan akan menargetkan orang tertentu dan situs militer. Kami berpikir teknologi mereka cukup bagus untuk melindungi penduduk,” ujarnya.

Organisasi hak asasi manusia asal AS, Human Rights Activists News Agency, bahkan memperkirakan angka kematian mencapai 7.015 orang. Dampak ini membuat warga Iran yang awalnya menentang rezim kini berbalik. Mereka kini memasang rantai manusia di depan pembangkit listrik yang menjadi sasaran serangan AS dan Israel, sebagai tanda protes terhadap aksi brutal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *