Latest Program: Kasus Korupsi Rp8,5 T, ‘Motif’ bagi Netanyahu Perangi Gaza-Iran
Kasus Korupsi Rp8,5 T, Netanyahu Diduga Terlibat dalam Kebijakan Perang Gaza-Iran
Netanyahu, Perdana Menteri Israel, menjadi tokoh pertama yang dikenai tuduhan korupsi. Meski telah dimulai sidangnya pada 2020, proses hukum terus tertunda akibat konflik Timur Tengah. Tuduhan melibatkan penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Selama persidangan, ia dituduh menerima hadiah berupa sampanye senilai US$195.000 (sekitar Rp3,337 miliar) serta perhiasan untuk istrinya senilai US$3.100 (sekitar Rp53 juta) dari miliarder seperti James Packer dan Arnon Milchan.
Menurut jaksa, Netanyahu diduga menggunakan hadiah tersebut untuk memengaruhi kebijakan pemerintah, termasuk mendorong langkah yang menguntungkan Milchan. Ia juga disebut meminta John Kerry, mantan Menteri Luar Negeri AS, untuk membantu Milchan mendapatkan visa ke Amerika Serikat. Selain itu, Netanyahu dituduh bersekongkol dengan pemilik surat kabar Israel, Arnon Mozes, untuk membatasi pemberitaan pesaing.
“Dengan dicabutnya keadaan darurat dan kembalinya sistem peradilan untuk bekerja, sidang akan dilanjutkan seperti biasa,” demikian pernyataan pengadilan Israel.
Kasus terberat melibatkan perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq. Dugaan menyebut Netanyahu memberikan perlakuan istimewa dalam regulasi sebagai imbalan atas pemberitaan positif dari situs berita Walla, yang diklaim terkait perusahaan tersebut. Insentif yang didapatkan diperkirakan mencapai US$500 juta (sekitar Rp8,5 triliun), menurut laporan Reuters.
Sementara itu, Iran menuduh Netanyahu mempercepat konflik dengan terus menyerang Lebanon, sebagai bagian dari upaya mengalihkan isu korupsi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menulis di media sosial: “Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya.” Ia menilai AS “kebodohan” jika membiarkan Israel merusak kesepakatan gencatan senjata.
Israel terus menyerang Lebanon demi menargetkan milisi Hizbullah. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, korban tewas dari 2 Maret hingga 9 April mencapai 1.888 orang, sementara korban luka sebanyak 6.092. Dari sisi Iran, serangan udara sejak 28 Februari menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, serta 3.597 warga Lebanon. Teheran menyatakan Lebanon termasuk wilayah dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Pakistan juga mengonfirmasi Lebanon sebagai sekutu Iran yang membantu menyerang Israel.
Sidang Netanyahu akan dilanjutkan hari Minggu (12/4) mendatang. Meski durasi persidangan panjang, hingga kini belum ada kesimpulan. Ia juga meminta penundaan sidang sebelumnya karena alasan kesehatan, termasuk mengeluhkan batuk dan pilek.