Main Agenda: Israel Blokir Spanyol dari Tim Gencatan Senjata Gaza yang Dipimpin AS
Israel Larang Spanyol Ikut Tim Pantau Gencatan Senjata Gaza yang Dibawah Bendera AS
Israel mengumumkan larangan terhadap Spanyol untuk bergabung dalam tim monitoring gencatan senjata antara pasukan militer Zionis dan milisi Hamas di wilayah Gaza, Palestina, yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Tim ini, yang dikenal sebagai Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC), berdiri setelah kesepakatan gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober tahun lalu. Tujuannya adalah mengawasi penerapan gencatan senjata serta membantu distribusi bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sebelumnya, Spanyol menjadi bagian dari CMCC bersama anggota dari Prancis, Inggris, dan Uni Emirat Arab.
Kontroversi Keterlibatan Spanyol
Menurut laporan AFP, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa Spanyol tidak lagi diperbolehkan menghadiri pertemuan CMCC. “Pemerintahan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez terlalu berpijak pada sikap anti-Israel, sehingga kehilangan kemampuan menjadi aktor konstruktif dalam mendorong rencana perdamaian Presiden Trump,” kata Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa Spanyol tidak akan diterima kembali dalam tim tersebut.
“Serangan terhadap misi penjaga perdamaian PBB adalah agresi yang tidak bisa dibenarkan oleh komunitas internasional,” tulis Pedro Sanchez di media sosial X pada 30 Maret lalu.
Kontroversi antara Israel dan Spanyol muncul setelah Madrid mengakui negara Palestina pada 2024. Peristiwa ini memicu penurunan hubungan bilateral dan kedua negara menarik duta besar mereka. Sanchez dikenal sebagai pemimpin yang aktif mengkritik tindakan Israel selama perang Gaza sejak 2023. Ia bahkan memimpin negaranya menentang serangan AS-Israel ke Iran, yang terjadi pada 28 Februari.
Sebelumnya, Saar marah karena Sanchez menuntut Israel menghentikan perang setelah seorang prajurit TNI yang bertugas di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) tewas akibat ledakan. Saar mengkritik unggahan Sanchez di X yang berisi kecaman terhadap Israel pada Senin (30/3). “Meski situasi di UNIFIL masih membingungkan, Sánchez memilih sikap sepihak dan menghasut terhadap Israel,” ujarnya.
Lebanon terus berdarah sejak serangan AS-Israel ke Iran meluncurkan konflik brutal. Milisi Hizbullah, yang didukung Iran, menyerang Israel sebagai balasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat militer lainnya dalam serangan tersebut. Sanchez menyampaikan belasungkawa kepada keluarga prajurit yang gugur dan dua personel UNIFIL yang terluka, sementara menekankan dukungan terhadap misi perdamaian internasional.