Main Agenda: Menlu Saudi Telepon Menlu Iran dan AS soal Situasi Panas Timur Tengah

Menteri Luar Negeri Saudi Berkomunikasi dengan Menlu Iran dan AS Mengenai Ketegangan di Timur Tengah

Kamis (9/4), Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, melakukan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, serta Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Dalam diskusi tersebut, keduanya membahas perkembangan terkini dan upaya untuk meredakan ketegangan guna memulihkan keamanan di wilayah Timur Tengah. Percakapan antara Faisal dan Araghchi menandai pertemuan diplomatik pertama yang diumumkan secara resmi antara Saudi dan Iran sejak konflik memanas setelah serangan AS dan Israel terhadap Negara Para Mullah di akhir Februari lalu.

Pada hari yang sama, Faisal juga bertemu dengan Rubio. Perwakilan Saudi dan AS meninjau situasi terkini terkait perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani antara kedua pihak. Kesepakatan itu tercapai saat konflik memasuki hari ke-40, dengan tujuan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Meski demikian, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut masih terbatas, meski gencatan senjata telah diumumkan.

Kesepakatan Gencatan Senjata dan Pengaruhnya

Menurut laporan dari perusahaan intelijen pasar Kpler, jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz turun drastis. Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku, hanya lima kapal yang melintas pada Rabu (8/4), dibandingkan 11 kapal di hari sebelumnya. Di hari berikutnya, Kamis (9/4), sebanyak tujuh kapal tercatat melewati jalur tersebut. “Meskipun beberapa pergerakan kapal telah dilanjutkan, lalu lintas sangat terbatas. Pemilik kapal tetap berhati-hati, dan kapasitas transit aman diperkirakan hanya mencapai maksimal 10-15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan,” jelas Ana Subasic, analis risiko perdagangan Kpler, dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera.

“Meskipun beberapa pergerakan kapal telah dilanjutkan, lalu lintas sangat terbatas. Pemilik kapal tetap berhati-hati, dan kapasitas transit aman diperkirakan hanya mencapai maksimal 10-15 pelayaran per hari jika gencatan senjata bertahan,” jelas Ana Subasic, analis risiko perdagangan Kpler, dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera.

Dari data Lloyd’s List Intelligence, lebih dari 600 kapal, termasuk 325 kapal tanker, masih terjebak di Teluk akibat penyumbatan Selat Hormuz. Meski begitu, Trump mengkritik Iran atas kesepakatan tersebut. “Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki,” tulis Trump di media sosial.

“Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan bisa dibilang tidak terhormat, dengan membiarkan minyak melewati Selat Hormuz. Itu bukan kesepakatan yang kita miliki,” tulis Trump di media sosial.

Araghchi, sementara itu, menilai AS tidak memenuhi komitmen dalam gencatan senjata. Ia juga menegaskan bahwa Washington harus memilih antara menjaga perjanjian atau membiarkan konflik berlanjut, terutama terkait serangan Israel di Lebanon. “Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon,” kata Araghchi dalam unggahan media sosial. “Bola berada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan menindaklanjuti komitmennya,” tambah dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *