Meeting Results: Kisah Mordechai Vanunu, Pembongkar Program Bom Nuklir Israel

Kisah Mordechai Vanunu, Pembocornya Program Bom Nuklir Israel

Negara Israel selama ini menutup rapat keberadaan program senjata nuklir mereka. Dalam beberapa dekade, mereka tidak pernah secara terbuka mengakui kepemilikan fasilitas nuklir. Namun, kejadian tahun 1986 mengubah semua itu. Seorang teknisi bernama Mordechai Vanunu, lahir di Maroko tahun 1954, menjadi kunci pengungkapan rahasia tersebut.

Vanunu bekerja di pusat riset nuklir rahasia Dimona, yang terletak di gurun Negev, sekitar 150 kilometer dari Yerusalem. Kelelahan mental membuatnya memutuskan meninggalkan pekerjaan itu pada 1985. Selama perjalanan menyusuri Asia dan Australia sebagai turis backpacker, ia menyisipkan dua rol film yang berisi dokumen tentang pembangkit listrik nuklir tempat ia bekerja, termasuk alat ekstraksi bahan radioaktif dan model laboratorium perangkat termonuklir.

Selama berada di Sydney, Vanunu menemukan ketenangan batin di tengah komunitas gereja Anglikan. Di sana, ia memeluk agama Kristen dan dibaptis Juli 1986. Persahabatan dalam jemaat itu memungkinkan ia sedikit menceritakan masa lalu. Namun, tidak banyak yang memperhatikan latar belakangnya yang terdengar biasa. Hingga akhirnya, seorang jemaat dari Kolombia, yang juga menjadi wartawan bebas, tertarik pada foto-foto hitam putih yang ia bawa.

Kemudian, lelaki kurus dengan bahasa Inggris terbata-bata itu mengirim sebagian gambar ke London Sunday Times. Koran tersebut bergerak cepat untuk mengonfirmasi informasi. Para ahli nuklir Inggris membantu memverifikasi kebenaran foto-foto. Tahun 1986, koran tersebut menerbitkan dokumentasi lengkap mengenai kemampuan nuklir Israel, yang mengejutkan dunia.

Berdasarkan laporan, Israel diakui sebagai kekuatan nuklir keenam, dengan menyimpan hingga 200 hulu ledak atom. Fakta mengejutkan ini juga mengungkapkan peran Prancis dalam membangun fasilitas Dimona, yang mulai beroperasi pada 1960-an. Meski demikian, Israel selama bertahun-tahun mengklaim tempat itu sebagai pabrik tekstil. Inspektur AS pernah mengunjungi pada era itu, tetapi tidak menyadari keberadaan fasilitas bawah tanah karena akses terbatas.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Peter Hounam, wartawan Sunday Times, mengingat pengungkapan pertama: “Saya melihat Vanunu berdiri di sana—seorang pria kecil, bertubuh mungil, tidak percaya diri, berpakaian sangat kasual. Dia jelas tidak terlihat seperti ilmuwan nuklir.” Setelah penerbitan artikel, Vanunu kembali ke London, tetapi justru menjadi korban Mossad.

“Saya hanya akan pergi selama beberapa hari ke utara Inggris, saya akan baik-baik saja,” pesan Vanunu kepada Hounam sebelum menghilang. Mossad menangkapnya melalui jebakan klasik: Cheryl Bentov, seorang perempuan yang menyamar sebagai turis, menarik perhatiannya. Dalam perjalanan ke hotel pedesaan, Vanunu akhirnya diringkus tanpa kesempatan untuk melarikan diri.

Kisah Vanunu menjadi salah satu pengungkapan terbesar dalam sejarah nuklir Israel. Dengan keberanian mengungkap rahasia, ia menunjukkan bagaimana informasi yang selama ini disembunyikan bisa muncul ke permukaan, meski harus menghadapi ancaman dari pihak yang merahasiakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *