Special Plan: Siapa Menang Perang antara AS atau Iran? Ini Penjelasan Pakar

Siapa yang Akan Memenangkan Perang antara AS dan Iran?

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung sengit meski keduanya sempat menyepakati gencatan senjata dua minggu sebelumnya. Kesepakatan ini mencakup negara-negara sekutu seperti Lebanon, namun tidak dijelaskan secara detail. Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pengumuman, pasukan Zionis melakukan serangan masif ke Lebanon, memicu kemarahan Iran yang menuduh AS melanggar perjanjian tersebut.

Strategi dan Tujuan Berbeda

Direktur Program Peperangan dan Terorisme dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Daniel Byman, menyatakan bahwa menentukan pemenang perang antara AS dan Iran sulit karena tujuan dan strategi masing-masing negara tidak sama. Menurutnya, perang bukan hanya diukur dari hasil medan perang, tetapi juga dampak strategis yang lebih luas.

“Strategi Iran bertujuan untuk bertahan, menciptakan kerusakan, serta mengalihkan fokus konflik ke luar. Strategi ini berhasil mencapai efek yang signifikan,” tulis Byman dalam analisisnya di situs CSIS, Rabu (8/4).

Byman menyoroti bahwa Iran telah menimbulkan kerugian strategis bagi AS. Dengan mengguncang pasar energi global, memperkuat ikatan aliansi AS, serta menunjukkan kelemahan kekuatan koersif Amerika, Teheran berhasil menyebarkan dampak yang memperkuat posisi mereka.

Respons Trump dan Kerugian Ekonomi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan komitmen untuk tetap mempertahankan pasukan, armada, dan persenjataan di Iran hingga kesepakatan benar-benar diikuti. “Semua kapal, pesawat, dan personel militer AS, serta amunisi yang dibutuhkan untuk menghancurkan musuh, akan tetap berada di Iran sampai penuhi sepenuhnya,” kata Trump di Truth Social pada Kamis (9/4).

“Jika kesepakatan tidak terpenuhi, kampanye penembakan akan dimulai, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat sebelumnya,” tambahnya.

Di sisi lain, serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke wilayah Teluk mengakibatkan kerusakan besar terhadap aset militer, industri, dan energi AS. Menurut Elaine McCusker, mantan pejabat anggaran AS yang kini bekerja di American Enterprise Institute, kerugian mencapai sekitar US$1,4 miliar hingga US$2,9 miliar dalam tiga minggu pertama perang.

Kerugian yang Tak Terduga

Langkah Iran menutup Selat Hormuz menimbulkan kenaikan drastis harga minyak dan gas, mengakibatkan AS menjadi negara dengan penjualan harga gas tertinggi sejak 2022. Tindakan ini juga berpotensi menjadi masalah politik bagi Trump, sekaligus ancaman ekonomi yang berdampak luas.

“Penutupan Hormuz akan menjadi tantangan baru bagi pemerintahan Trump, baik secara politik maupun ekonomi,” kata Byman.

Analisis Byman menegaskan bahwa meski serangan AS berhasil menyebabkan kerusakan, tujuan utama seperti menghancurkan program nuklir Iran dan mengganti rezim masih jauh dari tercapai. Dengan demikian, perang ini tidak hanya berujung pada kehilangan sumber daya, tetapi juga mengubah dinamika kekuasaan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *