Topics Covered: Jelang Perundingan, Iran Ungkit 2 Kali Diserang AS Saat Negosiasi
Jelang Perundingan, Iran Ungkit 2 Kali Diserang AS Saat Negosiasi
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqher Qalibaf, mengungkapkan bahwa Teheran datang ke meja perundingan dengan “niat baik, tetapi tanpa kepercayaan” terhadap Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini dikeluarkan setelah ia tiba di Bandara Islamabad, Pakistan, untuk memulai dialog damai, Sabtu (11/4). Qalibaf menyatakan bahwa pengalaman Iran dalam bernegosiasi dengan AS selalu berakhir dengan kegagalan dan pelanggaran kontrak, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim, Middle East Monitor.
“Sayangnya, pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berujung pada kegagalan dan pelanggaran kontrak,” kata Qalibaf.
Qalibaf menyoroti serangan militer AS terhadap Iran sebagai alasan utama mengikis kepercayaan Teheran. Ia menuduh pihak AS telah berkhianat selama proses diplomasi yang berlangsung setahun terakhir. Menurutnya, AS melakukan dua serangan terhadap Iran dalam kurun waktu kurang dari satu tahun saat negosiasi berlangsung. Serangan ini dianggap sebagai tindakan kejahatan perang, menurut Qalibaf.
Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan pernyataan sebelum terbang ke Pakistan. Ia menegaskan bahwa Washington siap membuka diri, namun tetap waspada. “Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan niat baik, kami tentu bersedia menjulurkan tangan terbuka,” ujar Vance. Namun, dia juga memberikan peringatan: “Jika mereka mencoba mempermainat kami, mereka akan mendapati tim negosiasi ini tidak akan bersikap reseptif.”
Pertemuan di Islamabad dianggap hasil upaya diplomatik dari Pakistan, Turki, Cina, Arab Saudi, dan Mesir. Koalisi negara-negara tersebut berhasil menjamin gencatan senjata selama dua minggu, dimulai pada Rabu (8/4) lalu. Perang dimulai pada 28 Februari setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran. Konflik telah berlangsung 40 hari, menghambat jalur energi di Selat Hormuz dan mengguncang pasar global. Tujuan pertemuan di Pakistan adalah menyusun naskah perdamaian berkelanjutan untuk mengakhiri eskalasi militer di Timur Tengah.