Special Plan: Halal Bihalal PDIP Jatim, Said Abdullah Singgung Bahaya Era Post-Truth

Halal Bihalal PDIP Jatim: Said Abdullah Peringatkan Ancaman Era Post-Truth

Dalam acara halal bihalal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Timur, Said Abdullah menyoroti dua pesan utama yang dianggapnya penting dalam konteks kehidupan sosial di Bulan Syawal. Yang pertama, ia memperkuat identitas bersama masyarakat Jatim, menyatakan siapa mereka dan tantangan yang dihadapi. Yang kedua, ia mengingatkan tentang krisis kejujuran yang mengancam dunia modern, seiring dengan kekuatan pesan tulus dari bulan Syawal.

“Saya hanya akan menyampaikan dua hal, yang menurut saya itu pesan penting dari ibadah sosial di Bulan Syawal ini. Pertama tentang jati diri kita di Jawa Timur, siapa kita, apa masalah kita bersama, dan bagaimana perjuangan ke depan. Kedua, tentang wajah dunia yang makin dipenuhi kepalsuan, padahal Syawal itu pesan ketulusan dan kejujuran, serta bagaimana kita harus bersikap,” ujar Said, dalam keterangan tertulis, Minggu (12/4/2026).

Persatuan Santri dan Abangan di Jatim

Said menekankan bahwa masyarakat Jatim memiliki akar sosial politik yang kuat, yang memperkuat hubungan antara santri dan abangan. Keduanya dianggap sebagai representasi dari kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) dan PDIP yang telah terakar hingga tingkat desa.

Di sisi lain, Said memperlihatkan bahwa perpecahan sosial yang dulu dijelaskan oleh Clifford Geertz sejak 1950-an kini semakin mengabur. Fenomena ini terlihat dari tumbuhnya pemilih NU yang memilih PDIP, yang menunjukkan integrasi antara kedua kelompok dalam membangun kesatuan.

Post-Truth: Kebenaran yang Terancam

Ia menyoroti era post-truth yang menggambarkan kesulitan masyarakat dalam membedakan fakta dan opini. Menurut Said, media sosial sering kali memperkuat kebohongan dengan narasi yang tidak selalu mencerminkan keadaan nyata.

Dalam konteks ini, ia membandingkan kecenderungan pemalsuan informasi sejak awal munculnya Islam dengan kondisi saat ini, di mana kebohongan bisa menyebar cepat dan memengaruhi persepsi publik secara signifikan.

Konsistensi Ideologi dan Kebangsaan

Said menegaskan bahwa NU dan PDIP memiliki prinsip keagamaan yang selaras, terutama dalam menjunjung Islam Wasathiyah. Nilai-nilai ini menekankan keadilan, toleransi, serta menolak ekstremisme.

Dalam praktik politik, PDIP berkomitmen untuk memperkuat peran NU dalam pemberdayaan sosial, sementara partai bergerak dalam kebijakan yang menciptakan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok minoritas.

Kembali ke Akar Tradisi

Said juga mengingatkan tentang asal-usul tradisi halal bihalal yang diprakarsai oleh KH Abdul Wahab Hasbullah dan Soekarno pada 1948. Acara tersebut lahir sebagai upaya mempererat persatuan nasional di masa awal kemerdekaan.

Ia menambahkan bahwa halal bihalal bukan sekadar ritual, melainkan sarana untuk membangun hubungan yang lebih erat, mengakui kesalahan, dan menumbuhkan sikap jujur dalam masyarakat.

Langkah Menuju Kebenaran

Said mengajak masyarakat untuk meningkatkan tabayun (penjelasan dan perdebatan yang jelas) serta memperkuat hubungan silaturahmi. Ia menekankan pentingnya menggunakan akal budi dan hati yang terbuka untuk menangkal narasi yang menyesatkan.

“Sering-sering bertabayun dan silaturahmi, meninggikan akal budi, serta selalu membuka hati, berpegang teguh pada jalan yang diridhoi Allah SWT. Semuanya jadi pegangan meniti jalan hidup agar bisa menemukan kesejatian, tidak mudah diombang-ambangkan kepalsuan,” ujar Said dalam pidatonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *