Visit Agenda: Tragis! 2 Bocah di Takalar Tewas Tenggelam di Lubang Septic Tank
Tragis! 2 Bocah di Takalar Tewas Tenggelam di Lubang Septic Tank
Visit Agenda - Di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, dua anak kecil ditemukan mayatnya terapung di dalam lubang galian septic tank proyek pembangunan sekolah. Kedua korban, MA (3) dan AZ (4), diduga terperosok saat bermain di sekitar lokasi. Tragedi memilukan ini terjadi di area proyek Sekolah Rakyat, Desa Pa'rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Takalar. Setelah beberapa jam hilang, jasad kedua balita ditemukan oleh warga yang memeriksa lokasi proyek, dengan kondisi tubuh terbujur kaku di dasar lubang yang tergenang air hujan.
Kejadian tersebut terjadi pada Rabu (27/5/2026) sore, ketika kedua korban meminta izin dari orang tua untuk bermain di lingkungan sekitar rumah. Lokasi tempat tinggal mereka berada dekat dengan area pembangunan. Namun, hingga malam hari tiba, kedua bocah tidak kunjung pulang. Orang tua dan warga setempat langsung memulai pencarian setelah merasa kejanggalan. Mereka menyisir beberapa titik lokasi, termasuk area proyek, hingga akhirnya menemukan jasad korban di dalam lubang septic tank.
Menurut keterangan Nasrullah, ayah korban, anaknya sebelumnya sedang asyik bermain telepon genggam di dalam rumah. Tak lama kemudian, AZ, sepupunya, mengajak anak-anak tersebut keluar. "Awalnya anak saya bermain HP di rumah, lalu sepupunya (AZ) datang mengajak bermain di luar. Kami tidak menyangka mereka masuk ke area proyek. Di sana sepertinya tidak ada pengawasan atau pagar pembatas dari pekerja, sampai akhirnya anak-anak main dekat galian dan tenggelam," ujar Nasrullah dengan nada lirih.
"Kami sangat terkejut dan sedih saat menemukan anak-anak di dalam lubang. Mereka tidak tahu bahwa area itu berbahaya, dan kita sebagai pengawas proyek seharusnya lebih waspada," tambah Nasrullah.
Setelah menemukan jasad kedua korban, warga langsung melakukan evakuasi dan mengantarkan ke rumah duka. Kini, MA dan AZ telah dimakamkan di tempat pemakaman umum kawasan Kecamatan Galesong, Takalar. Tragedi ini memberikan dampak besar pada keluarga korban, yang kini berharap pihak pengembang meningkatkan sistem keamanan di area proyek. Mereka menegaskan bahwa kejadian seperti ini bisa dihindari jika ada pengawasan ketat dan pembatasan yang memadai.
Personel Satreskrim Polres Takalar bersama Polsek Polongbangkeng Utara telah datang ke lokasi untuk melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memasang garis polisi. Investigasi terus berjalan, dengan fokus pada unsur kelalaian (human error) dari pengembang proyek. Penyidik memeriksa standar keselamatan kerja di area yang digunakan warga, termasuk keberadaan pagar pembatas dan tanda peringatan.
Kecamatan Polongbangkeng Utara menjadi sorotan setelah kejadian ini terungkap. Warga setempat mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kurangnya kewaspadaan dari pekerja proyek. Area galian septic tank yang berada di dekat pemukiman warga dinilai rentan mengalami insiden serupa jika tidak dikelola dengan baik. "Kita sudah mengingatkan bahwa area ini berpotensi berbahaya, tapi tak ada tindakan nyata dari pihak kontraktor," keluh seorang warga setempat.
Kondisi lubang galian yang dalam dan tergenang air hujan menjadi faktor utama penyebab tenggelam. Lubang ini terbuka di sekitar lokasi proyek Sekolah Rakyat, yang sedang dalam tahap konstruksi. Seorang saksi mengatakan bahwa lubang tersebut tidak diberi penutup atau pagar, sehingga mudah diakses oleh anak-anak. "Anak-anak sering bermain di dekat sana, dan mereka tidak tahu bahaya yang mengancam," ungkap saksi mata yang tidak ingin disebutkan nama.
Penyelidikan terus berlanjut untuk mengetahui apakah ada kesalahan dalam prosedur pengamanan oleh pengembang. Polisi juga memeriksa apakah penjagaan di area proyek cukup ketat selama jam operasional. Dalam penyelidikan, pihak kepolisian mengumpulkan bukti-bukti terkait keberadaan pengawas dan pengaturan alat keselamatan. "Kita perlu memastikan bahwa setiap proyek pembangunan tidak hanya fokus pada kecepatan, tapi juga keselamatan warga sekitar," jelas Kasatreskrim Polres Takalar.
Kejadian ini mempercepat upaya pihak keluarga untuk mendorong perbaikan sistem pengamanan di lokasi proyek. Mereka menyarankan adanya penutupan lubang galian, pemasangan pagar, dan papan peringatan yang jelas terlihat. "Harapan kami adalah kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan. Anak-anak harus dilindungi, terutama di area yang sedang dibangun," imbuh Nasrullah.
Setelah pemeriksaan oleh tim medis selesai, jasad MA dan AZ langsung diserahkan ke pihak keluarga. Pemakaman diadakan di tempat pemakaman umum, dengan rasa duka yang mendalam dari seluruh warga. Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat bahwa keamanan di area proyek perlu diperhatikan lebih serius. "Kami berharap perusahaan pembangunan benar-benar bertanggung jawab dan melindungi anak-anak," pungkas seorang tokoh masyarakat setempat.
Dalam beberapa hari terakhir, warga Desa Pa'rappunganta menggalang dana untuk membantu keluarga korban. Mereka juga mengadakan pertemuan untuk membahas perlunya pengawasan lebih ketat di lokasi proyek. Pihak pengembang dijanjikan akan memperbaiki fasilitas pengamanan, termasuk menutup lubang galian yang berpotensi berbahaya. "Kami ingin memberikan pengertian bahwa anak-anak adalah yang paling rentan, jadi tindakan harus cepat dan tepat," tegas warga lainnya.
Tragedi ini menjadi sorotan nasional, dengan berbagai pihak mengkritik minimnya standar keselamatan di proyek-peroyek yang berdekatan dengan pemukiman warga. Dinas Pendidikan dan Satuan Kerja Percepatan Pembangunan (SKPK) juga diminta untuk meninjau kembali prosedur pengawasan di area konstruksi. "Kami sedang berupaya mengevaluasi seluruh proyek pembangunan di kabupaten ini, termasuk Sekolah Rakyat," kata salah satu pejabat pemerintah setempat.
Editor: Kastolani Marzuki
Kedua korban, MA dan AZ, yang merupakan anak-anak yang bermain sehari sebelum kejadian, kini telah menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat. Tragedi ini menunjukkan betapa pentingnya kewaspadaan di sekitar area proyek, terutama saat anak-anak berada di dekat lokasi. Peristiwa yang terjadi di Takalar menjadi contoh nyata bahwa kesalahan kecil dalam pengawasan bisa berakibat fatal.