Facing Challenges: GINSI dorong penguatan importir di tengah gejolak global

GINSI Dorong Penguatan Peran Importir di Tengah Ketidakstabilan Global

Surabaya, Jatim (ANTARA) – Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) menekankan pentingnya peran importir dalam mendukung perekonomian nasional, terlebih di tengah situasi yang tidak menentu di tingkat internasional. Pada Kamis, Ketua Umum GINSI Subandi mengatakan bahwa dampak perang di Timur Tengah memberikan tekanan signifikan terhadap kegiatan perdagangan luar negeri. Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok dan bahan baku produksi industri.

Ketergantungan Industri pada Impor

Berdasarkan Subandi, mayoritas sektor manufaktur di Indonesia tetap memprioritaskan impor sebagai sumber utama bahan baku. Namun, konflik di Timur Tengah mulai memengaruhi harga komoditas seperti plastik, yang mengalami kenaikan mencapai 40 hingga 50 persen. Kenaikan tersebut dipicu oleh fluktuasi harga minyak global dan kenaikan biaya angkutan barang, yang semakin terasa akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Biaya mendatangkan barang menjadi masalah utama bagi pelaku usaha. Jika ini terus berlanjut, bisa jadi aktivitas impor akan menurun, sehingga pasokan bahan baku ke industri akan terganggu,” ujar Subandi.

Karena itu, Subandi berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, insentif pajak, serta pengurangan prosedur perizinan. “Pemerintah perlu memastikan cadangan devisa cukup dan mengambil langkah nyata untuk meringankan beban importir,” tambahnya.

Optimisme dalam Kondisi Sulit

Sementara itu, Ketua GINSI Jawa Timur Hana Belladina menegaskan bahwa anggota organisasi harus tetap optimistis meski menghadapi ketidakpastian global. “Situasi sulit justru menguji ketangguhan kita. Harus ada inisiatif untuk berinovasi dan membangun kepercayaan,” katanya.

“Keberhasilan dunia usaha tidak hanya tergantung pada kondisi eksternal, tapi juga kemampuan beradaptasi di tengah tantangan,” ujar Bella.

Bella menyoroti bahwa sekitar 79 hingga 80 persen bahan baku industri di Jawa Timur berasal dari luar negeri. Hal ini membuat kelancaran impor menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi serta daya saing ekspor. “Tanpa alur barang yang lancar, industri akan kesulitan berkembang,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *