Key Discussion: Kepala Bapanas: Indonesia swasembada protein-karbohidrat tanpa impor
Kepala Bapanas: Indonesia Swasembada Protein-Karbohidrat Tanpa Impor
Jakarta – Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan, termasuk protein dan karbohidrat, melalui peningkatan produksi dalam negeri serta kebijakan pangan nasional. “Pangan yang dibutuhkan tubuh kita adalah protein dan karbohidrat. Kita sudah swasembada hari ini,” ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa.
Produksi Komoditas Strategis Domestik
Amran menjelaskan bahwa sejumlah pangan pokok strategis telah mencapai tingkat swasembada. Beberapa di antaranya adalah beras, telur ayam ras, daging ayam, serta jagung pakan. Keempat komoditas tersebut menjadi penyuplai utama karbohidrat dan protein, serta mendukung industri protein hewani.
Proyeksi Neraca Pangan Tahun 2025
Pencapaian ini tercatat dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025. Untuk beras, produksi tahunan sebesar 34,69 juta ton cukup memenuhi kebutuhan konsumsi 31,16 juta ton tanpa perlu impor. Sementara itu, daging ayam ras dan telur ayam ras juga mencapai swasembada, karena produksi dalam negeri lebih besar dari konsumsi nasional.
Produksi daging ayam ras mencapai 4,29 juta ton, sedangkan konsumsinya hanya 4,12 juta ton. Untuk telur ayam ras, produksi 6,54 juta ton memenuhi kebutuhan konsumsi 6,47 juta ton. Di jagung pakan, setelah sempat ada impor pada tahun 2024, produksi tahun 2025 dipastikan tanpa ketergantungan impor.
Produksi jagung pakan dengan kadar air 14 persen mencapai 16,16 juta ton, sedangkan konsumsinya 15,23 juta ton.
Kondisi Pangan Lainnya
Dalam kesempatan itu, Amran menambahkan bahwa masih ada beberapa pangan strategis yang tidak memerlukan impor. Bahkan, beberapa komoditas seperti bawang merah, gula konsumsi, cabai, dan minyak goreng mulai diekspor ke pasar global. “Kita termasuk eksportir terbesar dunia untuk minyak goreng, mensuplai kebutuhan pasar internasional,” jelasnya.
“Bawang merah, gula konsumsi, cabai, juga sudah swasembada. Bahkan ada yang ekspor, yakni minyak goreng. Kita yang mensuplai dunia. Jadi semua ini sudah swasembada dan ditambah ikan, sudah ada pangan kita. Kalau yang belum itu kedelai, bawang putih, susu, daging,” tambah Amran.
Visi Swasembada dan Stok Pangan
Visi swasembada pangan, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto, dinilai sebagai kunci dalam mengatasi krisis akibat faktor geopolitik dan perubahan iklim. Dengan tercapainya target swasembada beras dalam waktu satu tahun, bukan empat tahun seperti semula, menjadi bukti keberhasilan kebijakan tersebut.
“Empat tahun rencana awal swasembada, begitu Bapak melihat ada geopolitik yang memanas, Pak Mentan, apapun caranya, satu tahun. Jadi, ini luar biasa satu tahun swasembada. Dan, stok cadangan beras kita insya Allah bulan ini 5 juta ton,” tambahnya.
Menurut data terbaru, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) saat ini mencakup beras yang terbesar. Per 7 April, stok beras berada di angka 4,6 juta ton, melebihi rekor sebelumnya yang hanya 4,2 juta ton. Untuk komoditas lain, seperti jagung pakan, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi, daging kerbau, daging ayam ras, dan telur ayam ras, masing-masing memiliki stok sebesar 177 ribu ton, 122 ribu kiloliter, 48 ribu ton, 8 ribu ton, 3 ribu ton, 39 ton, dan 7 ton.