Key Strategy: Celios: RI perlu segera diplomasi antisipasi penutupan Bab el-Mandeb
Celios: RI perlu mempercepat upaya diplomatik antisipasi penutupan Selat Bab el-Mandeb
Jakarta – Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, mengatakan pemerintah Indonesia harus segera mengambil langkah strategis dengan pihak Yaman dan Iran untuk mengatasi ancaman penghambatan perdagangan akibat potensi penutupan Selat Bab el-Mandeb. Ia menekankan pentingnya peran diplomatik dalam mencegah dampak negatif dari gangguan di jalur strategis tersebut.
Menurut Bhima, Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Data dari UNCTAD menyebutkan sekitar 10–12 persen perdagangan global melewati kawasan ini, termasuk rute cepat antara Asia dan Eropa. “Jalur ini sangat kritis bagi ekspor-impor nasional,” jelasnya.
“Pemerintah perlu mengambil langkah mitigasi segera. Pertama, melobi Yaman dan Iran agar kapal pengangkut barang Indonesia tidak mengalami hambatan,” kata Bhima dalam pernyataannya kepada ANTARA, Senin.
Dia menyoroti bahwa jika penutupan terjadi, waktu pelayaran kapal bisa meningkat hingga 15 hari, serta biaya logistik naik drastis karena risiko keamanan. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekspor Indonesia ke Eropa, yang mencapai 13,4 persen dari total ekspor per Januari 2026.
Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, menjadi faktor utama ketegangan di Selat Bab el-Mandeb. Serangan yang dilancarkan kelompok tersebut terhadap Israel sejak akhir Februari meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pada jalur distribusi energi global. Meski belum ada penutupan langsung, risiko ini tetap signifikan, menurut laporan Anadolu.
Bhima juga memperingatkan dampak krisis energi akibat penutupan Selat. Ia memproyeksikan harga minyak dunia bisa melonjak hingga 120 dolar AS per barel, yang berdampak pada inflasi sektor pangan dan energi. “Krisis pupuk yang terjadi juga dipicu oleh gangguan arus bahan baku,” tambahnya.
Dalam upaya mengurangi tekanan, dia menyarankan pemerintah mempercepat subsidi energi dan pupuk, serta menambah dana untuk transportasi umum. Dengan asumsi kenaikan harga minyak 1 dolar AS per barel, tambahan belanja pemerintah diperkirakan mencapai Rp515 triliun.
Sebagai solusi jangka panjang, Bhima menyarankan transisi energi di sektor ketenagalistrikan, seperti penggunaan panel surya, mikro-hidro, dan tenaga bayu. Ia mengusulkan desa-desa yang mengandalkan bahan bakar solar untuk generator bisa diarahkan ke sumber energi alternatif.
Kondisi ini berpotensi memperparah krisis energi global, terutama di tengah ketegangan di Selat Hormuz. Dengan demikian, diplomasi diiringi kesiapan domestik menjadi kunci untuk menjaga stabilitas perdagangan Indonesia.