Key Strategy: Di balik lonjakan stok beras dan masa depan ketahanan pangan

Jakarta – Di tengah dinamika geopolitik global yang kian tidak pasti, Indonesia justru mencatatkan capaian yang patut dicermati dengan serius, ketika stok beras nasional menembus 4,5 juta ton, bahkan diproyeksikan mencapai 5 juta ton dalam waktu dekat. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kerja panjang kebijakan, keringat petani, serta koordinasi lintas lembaga yang mulai menemukan bentuknya. Di balik capaian ini, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting tentang apakah kelimpahan ini benar-benar telah dikelola sebagai kekuatan strategis bangsa, atau justru berpotensi menjadi titik lemah baru jika tidak diantisipasi dengan cermat.

Stok beras dalam jumlah besar secara langsung memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi, khususnya dalam menjaga harga pangan tetap terkendali. Dalam konteks Ramadhan, ketika tekanan inflasi biasanya meningkat akibat lonjakan permintaan, situasi kali ini relatif lebih stabil. Beras yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi, justru tidak memberikan tekanan berarti.

Peran Perum Bulog sebagai instrumen stabilisasi harga semakin terlihat nyata, tidak hanya dalam menjaga ketersediaan, tetapi juga dalam menahan gejolak harga di tingkat konsumen. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa target penyerapan gabah dan beras petani sebesar 4 juta ton pada 2026 bukan sekadar angka, melainkan mandat strategis yang harus dicapai melalui kolaborasi luas, mulai dari Badan Pangan Nasional, pemerintah daerah, hingga TNI dan Polri. Penegasan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus ditopang oleh orkestrasi kebijakan yang terintegrasi dan konsisten.

Meskipun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa keberlimpahan stok tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Salah satu isu krusial adalah disparitas antara harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah dengan harga riil di pasar. Ketika konsumen harus membayar lebih mahal dari harga yang seharusnya, maka terdapat celah dalam sistem distribusi dan pengawasan yang perlu segera diperbaiki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *