Key Strategy: Ekonom: Ketergantungan minyak RI lebih rendah dari negara sejawat
Ekonom: Ketergantungan Minyak RI Lebih Rendah Dibanding Negara Sejawat
Dalam forum Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengungkapkan bahwa Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Menurutnya, negara-negara sejawat seperti Filipina dan Malaysia memiliki ketergantungan yang lebih besar terhadap minyak dari wilayah tersebut.
“Kita jauh lebih baik dibandingkan dengan peers lain,” ujarnya. Ia menyebutkan Filipina mengandalkan minyak Timur Tengah hingga 95 persen, sementara Malaysia mencapai sekitar 70 persen. Dalam hal ini, Indonesia hanya mengimpor sekitar 20 persen.
Faisal menekankan bahwa kebijakan diversifikasi sumber impor, termasuk dari Afrika, menjadi alasan utama tingkat ketergantungan Indonesia lebih rendah. Ia menilai ini memberi keuntungan dalam menghadapi perubahan harga minyak di masa depan.
Kebijakan kerja dari rumah (WFH) untuk aparatur sipil negara (ASN) mulai berlaku 1 April 2026, dengan penerapan harian setiap Jumat. Kebijakan ini akan dievaluasi setelah dua bulan berjalan. Selain itu, pemerintah juga memberikan rekomendasi untuk sektor swasta mengenai WFH.
Menurut Faisal, kebijakan subsidi BBM yang dipertahankan pemerintah membantu mengendalikan inflasi. Ia menambahkan kenaikan harga BBM bersubsidi berdampak signifikan pada harga pangan, baik langsung maupun tidak langsung.
Potensi Penghematan dari Kebijakan WFH
Kebijakan WFH diharapkan mampu mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Diperkirakan penghematan dari kompensasi BBM mencapai Rp6,2 triliun, sementara penghematan dari konsumsi masyarakat bisa mencapai Rp59 triliun.