Key Strategy: Wamentan dorong pengetatan impor dan penguatan hilirisasi gula
Wamentan Penguatan Hilirisasi dan Pengetatan Impor Gula
Jakarta – Dalam upaya memastikan hasil pertanian tebu tetap stabil, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan kebutuhan untuk memperketat pengaturan impor gula serta meningkatkan kinerja sektor hilir. Ia menyoroti bahwa meski produktivitas di tingkat hulu telah tumbuh pesat, tumpukan gula rafinasi dari luar negeri masih mengganggu pemasaran produk petani lokal.
“Kunci swasembada gula terletak pada kegiatan menanam, panen, dan produksi yang masif. Namun, yang terjadi justru paradoks, kita masih mengimpor gula sementara hasil produksi petani tidak laku,” ujarnya dalam pernyataan di Jakarta, Kamis.
Sudaryono mengkritik volume besar impor gula rafinasi yang mengganggu penyerapan hasil produksi petani tebu. Kondisi ini tidak hanya menekan pendapatan petani tetapi juga mengacaukan dinamika pasar gula nasional. Ia menegaskan bahwa penguatan sektor hilir menjadi strategi penting agar produksi bisa terserap optimal dan memberi nilai tambah berkelanjutan.
Di sektor hulu, pemerintah telah meluncurkan berbagai insentif untuk meningkatkan produktivitas para petani tebu, seperti program bongkar ratoon dengan dana mencapai Rp2,5 triliun. Selain itu, program subsidi pupuk, alat pertanian, hingga perluasan areal tanam dengan target 200 ribu hektare juga sedang dijalankan. Total intervensi yang diproyeksikan mencapai Rp4 triliun, dengan harapan mendorong kenaikan produksi gula nasional hingga 1 juta ton.
“Jika kebocoran di sektor hilir bisa diatasi, maka investasi Rp4 triliun itu bisa mendorong peningkatan produksi sebesar 1 juta ton gula. Dengan asumsi harga Rp17 ribu per kilogram, nilai tambah yang dihasilkan bisa mencapai Rp17 triliun,” ujarnya.
Wamentan Sudaryono juga menyebutkan bahwa kebijakan nasional di bidang pangan, termasuk gula, perlu dilakukan secara terpadu. Ia menekankan perlunya regulasi yang lebih ketat terutama dalam distribusi gula rafinasi, agar tidak membanjiri pasar konsumsi. Dukungan BUMN untuk mengatur tata niaga gula melalui satu pintu dinilainya sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Selain mengurangi ketergantungan pada impor, peningkatan produksi dalam negeri akan memberikan dampak positif pada perekonomian nasional, seperti peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Substitusi impor itu penting. Impor memang bukan hal yang ideal, tapi kalau bisa kita gantikan dengan produksi dalam negeri, itu jauh lebih baik,” tambahnya.