Latest Program: Menaker: Hubungan industrial transformatif penting di era AI
Menaker: Relasi Industri Transformatif Menjadi Kunci Penguasaan Teknologi AI
Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa hubungan industrial yang seimbang serta bertransformasi sangat vital untuk memastikan pekerja dan perusahaan tetap kompetitif di tengah revolusi teknologi kecerdasan buatan (AI). Dalam wawancara di Jakarta, Sabtu, ia menyatakan bahwa relasi industrial ke depan harus mengubah paradigma, tidak hanya mempertahankan stabilitas atau mengendalikan konflik, tetapi juga menjadi fondasi kolaborasi yang mendukung pertumbuhan bersama.
Transformasi Relasi Industri Sebagai Strategi Adaptasi
Menurut Yassierli, perubahan struktur kerja yang terus terjadi akibat digitalisasi mengharuskan relasi industrial menjadi lebih dinamis. Ia menekankan bahwa teknologi, seperti AI, memaksa perubahan cara kerja yang lebih adaptif, terutama di sektor kesehatan dan farmasi. “Ketika dunia membicarakan inovasi dan otomasi, kita harus menghindari situasi pekerja yang tertinggal,” jelasnya.
“Hubungan industrial harus naik kelas, tidak hanya harmonis, tetapi juga transformatif, di mana pekerja dan perusahaan menjadi mitra strategis yang tumbuh bersama,” ujar Yassierli.
Persiapan untuk Masa Depan dengan Kolaborasi
Menaker mengingatkan bahwa relasi industrial yang matang tidak muncul secara spontan. Tahap awal dimulai dari kesadaran terhadap regulasi ketenagakerjaan, lalu berkembang melalui komunikasi terbuka, konsultasi dalam pengambilan kebijakan, serta kerja sama untuk menyelesaikan masalah. Pada tingkat tertinggi, pekerja dianggap sebagai aset strategis, bukan sekadar faktor produksi.
Dengan perspektif ini, relasi industrial tidak hanya mencegah perselisihan, tetapi juga memperkuat daya saing perusahaan serta menjaga kesejahteraan pekerja secara berkelanjutan. Yassierli berharap semua perusahaan bisa mencapai maturitas hubungan industrial, mulai dari adanya serikat buruh/pekerja, hingga perjanjian kerja bersama yang memberikan solusi mutualistik.
Kolaborasi dan Gotong Royong dalam Transformasi
Menaker menekankan bahwa produktivitas dan kesejahteraan pekerja harus berkembang bersama. Ia mendorong pembangunan hubungan industrial yang berbasis saling percaya, mendengar, dan mencari jalan keluar. “Aspirasi pekerja harus disampaikan secara konstruktif melalui dialog sosial yang penuh kekeluargaan dan musyawarah mufakat,” tambahnya.
Relasi industrial yang transformatif, kata Yassierli, menjadi pilar penting dalam mempersiapkan dunia kerja Indonesia menghadapi perubahan menuju negara maju dan emas. “Semua pihak harus peduli, tidak hanya pada kepentingan ekonomi, tetapi juga lingkungan sekitar,” pungkasnya.