Latest Program: Menhut tekankan pengelolaan SDA berkelanjutan di Kwibuka ke-32
Menhut Tekankan Pengelolaan SDA Berkelanjutan di Peringatan Kwibuka ke-32
Jakarta – Dalam acara peringatan Kwibuka ke-32 di Rwanda, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan sebagai faktor kunci dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peringatan ini diadakan di Republik Rwanda, Afrika Tengah, untuk mengenang tragedi genosida tahun 1994 yang menimpa etnis Tutsi. Menhut, dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa Rwanda menjadi contoh yang menginspirasi dalam hal konservasi lingkungan.
Kebijakan yang diterapkan oleh Rwanda dinilai berhasil menggabungkan perlindungan ekosistem dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Konservasi lingkungan tidak hanya memperkuat aspek lingkungan, tetapi juga meningkatkan kontribusi ekonomi Rwanda secara signifikan,” tulis Raja Antoni. Ia menyoroti bahwa upaya penjagaan lingkungan di negeri itu berdampak pada ekosistem sekaligus memperkuat kehidupan ekonomi warga.
“Populasi gorila di Taman Nasional Volcanoes telah meningkat pesat karena kombinasi kebijakan konsisten dan partisipasi masyarakat,” ujar Menhut Raja Juli Antoni. Contoh ini menunjukkan bagaimana kawasan konservasi bisa menjadi pusat penghasil manfaat ekonomi, seperti pengelolaan pariwisata berbasis satwa liar.
Pariwisata berbasis konservasi, khususnya aktivitas melacak gorila, dianggap sebagai salah satu penghasil pendapatan utama negara tersebut. Menhut menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak saling eksklusif dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi bisa saling mendukung.
Dalam wawancara, Menhut juga menyebut tata kelola kolaboratif sebagai pendekatan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. “Fokus pada manfaat lingkungan seperti air, penyerapan karbon, dan sumber penghidupan membuat konservasi lebih relevan secara sosial dan ekonomi,” tambahnya. Ia menilai bahwa hutan tidak hanya dipandang sebagai area lindung, tetapi sebagai ruang yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kwibuka ke-32 merupakan momentum untuk mengenang peristiwa genosida 1994. Menhut menggarisbawahi bahwa peringatan ini juga menjadi cerminan komitmen Rwanda terhadap pemulihan ekosistem dan pembangunan yang berkelanjutan. “Komitmen kuat terhadap lingkungan terlihat dari upaya konservasi yang memberikan manfaat jangka panjang bagi kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Acara tersebut dihadiri oleh Duta Besar Rwanda Sheikh Abdul Karim Harelimana, serta Duta Besar Tanzania Macocha Moshe Tembele yang juga menjabat sebagai ketua Korps Diplomatik Afrika. Hadir pula penyintas genosida 1994, Liliane Murangwayire, yang memberikan pengalaman langsung tentang perjalanan pemulihan nasional Rwanda.