Main Agenda: Bappenas rumuskan kerangka strategis perkuat mentalitas masyarakat

Perkuatan Karakter Masyarakat Jadi Fokus Strategis Bappenas

Jakarta – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sedang menyiapkan kerangka strategis terpadu untuk meningkatkan nilai, moral, serta mentalitas masyarakat sebagai dasar pembangunan negara. Dalam rapat penyusunan peta jalan penguatan karakter dan jati diri bangsa, Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Bappenas Didik Darmanto menyatakan bahwa pembangunan karakter adalah komponen penting yang tidak terpisahkan dari agenda nasional.

Kebangsaan Tidak Hanya Tentang Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Didik, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, produktivitas, atau pembangunan infrastruktur. Faktor lain yang krusial adalah pengaruh nilai, etika, dan pola pikir masyarakat. Ia menekankan bahwa aspek ini harus menjadi perhatian utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Karakter dan jati diri bangsa adalah bagian integral dari upaya transformasi nasional,” ujar Didik dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

20 Inisiatif Transformasi untuk Bangun Masyarakat

Kerangka strategis ini termasuk dalam 20 upaya transformatif yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Didik menjelaskan bahwa fokus pada pembangunan manusia berlandaskan nilai akan menjadi prioritas utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Pendekatan Ekosistem untuk Konsistensi Nilai

Peta jalan penguatan karakter akan diimplementasikan melalui pendekatan ekosistem yang melibatkan berbagai pilar, seperti keluarga, institusi pendidikan, lembaga keagamaan, media, serta organisasi kemasyarakatan. Pendekatan ini bertujuan mengubah pola pikir dan tindakan masyarakat secara berkelanjutan.

Program yang Berjalan, Tapi Masih Butuh Konsistensi

Banyak program penguatan karakter telah dijalankan oleh berbagai kementerian dan lembaga. Meski demikian, Didik menambahkan bahwa diperlukan kerangka besar yang mampu menyatukan seluruh inisiatif tersebut. “Masalah utamanya adalah belum ada struktur yang menghubungkan semua program secara sinergis, sehingga dampaknya lebih optimal,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *