New Policy: Ekspor udang Waingapu diproyeksikan capai Rp4,85 triliun per tahun

Ekspor udang Waingapu diproyeksikan capai Rp4,85 triliun per tahun

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDMKP), Nyoman Radiarta, mengungkapkan proyeksi ekspor udang dari tambak terintegrasi di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), dapat mencapai nilai hingga 285 juta dolar AS atau sekitar Rp4,85 triliun setiap tahun. Penyataan ini disampaikan dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, sehubungan dengan kajian awal yang dilakukan Balai Besar Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.

“Adapun nilai ekonomi udang mencapai Rp3,38 triliun per tahun,” kata Nyoman Radiarta.

Proyek ini juga diperkirakan meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumba Timur sebesar 34,7 persen, dari sekitar Rp7,8 triliun menjadi Rp10,5 triliun. Total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp7,2 triliun, dengan sebagian besar berasal dari pinjaman luar negeri. Nyoman menambahkan, keberadaan tambak udang Waingapu berpotensi menyerap sekitar 8.820 tenaga kerja selama fase konstruksi maupun operasional.

Perputaran upah lokal diperkirakan mencapai Rp260 miliar per tahun, menurut Nyoman. Selain itu, dampak sosial yang dihasilkan cukup signifikan, termasuk peningkatan kesejahteraan bagi 35.280 jiwa, termasuk anggota keluarga pekerja. “Tambak ini berpotensi mengangkat 55 persen penduduk miskin keluar dari kemiskinan struktural,” ujarnya.

Kawasan tambak udang Waingapu

Kawasan tambak udang Waingapu terletak di Desa Palakahembi dan Kelurahan Watumbaka, Kecamatan Pandawal, Kabupaten Sumba Timur, NTT. Proyek strategis ini dirancang sebagai model budidaya udang berkelanjutan dengan penerapan praktik akuakultur terbaik.

Proyek dikembangkan berdasarkan konsep Integrated Shrimp Farming (ISF), yang mencakup pembangunan infrastruktur mulai dari hulu hingga hilir. Ini meliputi intake air laut, tandon utama, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), fasilitas industri pendukung, serta pengadaan peralatan dan mesin. Dengan luas lahan sekitar 2.150 hektare, 1.361 hektare di antaranya telah terbangun.

Diproyeksikan, kawasan ISF Waingapu mampu menghasilkan 52.000 ton udang setiap tahun. Kebutuhan investasi mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp7,2 triliun, terdiri dari Rp6,1 triliun dari pinjaman luar negeri dan Rp1,1 triliun dari dana pendamping (RMP). Pemerintah menargetkan proyek ini dapat selesai dalam tiga tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *