New Policy: INDEF: Ketahanan pangan dan energi kunci keberlanjutan program MBG
Jakarta – Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai, ketahanan pangan dan energi menjadi kunci keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah ancaman krisis global. Ia menyebut bahwa program swasembada pangan dan energi yang dicanangkan pemerintah menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar global. “Kunci keberhasilan MBG adalah memastikan pasokan bahan baku berasal dari dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Maka dari itu, Esther mendorong pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap penguatan infrastruktur pertanian. Dukungan tersebut meliputi pembangunan irigasi, penyediaan pupuk, teknologi pertanian modern, akses pembiayaan petani, serta penguatan distribusi hasil panen. Dengan infrastruktur yang memadai, produktivitas pertanian dapat meningkat dan Indonesia bisa memperkuat ketahanan pangan dan sangat efektif untuk mendukung ketersediaan pasokan lokal MBG.
Ia juga menegaskan bahwa dalam teori ekonomi, suatu negara tidak harus memproduksi semua barang. Negara sebaiknya fokus pada komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dan bisa diproduksi lebih efisien. Dalam konteks Indonesia, beras merupakan komoditas yang realistis untuk mencapai swasembada.
Meski demikian, Esther menyebut bahwa tidak semua masyarakat Indonesia bergantung pada beras sebagai makanan pokok. Komoditas seperti singkong, porang, sukun, dan sagu memiliki potensi besar sebagai alternatif sumber karbohidrat. Dengan dukungan teknologi pengolahan pangan, komoditas tersebut dapat diolah menjadi produk pengganti beras yang bergizi dan memiliki nilai ekonomi.
Sementara pada sektor energi, menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi alternatif. Sumber energi terbarukan seperti tenaga air, angin, dan matahari tersedia melimpah. Selain itu, pengolahan sampah menjadi energi juga dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Jika energi domestik dapat dipenuhi secara mandiri, maka tekanan kenaikan harga energi global tidak terlalu berdampak pada biaya produksi pangan. Ia menekankan bahwa ketahanan pangan dan ketahanan energi merupakan kunci agar Indonesia tidak terlalu terdampak gejolak global. "Jika harga energi dunia meningkat, maka harga gas dan bahan bakar minyak domestik berpotensi ikut naik.
Kondisi ini akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan. Namun, jika Indonesia mampu swasembada pangan dan energi, dampak tersebut dapat ditekan sehingga program sosial seperti Makan Bergizi Gratis tetap berjalan," jelas Esther. Selain itu, ia menegaskan bahwa keterlibatan UMKM tetap penting dalam mendukung keberhasilan program.
Namun pemerintah perlu merancang skema yang lebih inklusif. Misalnya dengan memberikan peluang bagi UMKM untuk mengelola dapur, menyediakan pelatihan, serta mendorong kemitraan yang adil antara pengelola program dan pelaku usaha lokal. Dengan skema yang lebih inklusif, program Makan Bergizi Gratis tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Jika ketahanan pangan dan energi diperkuat serta tata kelola program diperbaiki, maka Program Makan Bergizi Gratis dapat tetap berjalan meskipun berada di tengah tekanan krisis global,” tutupnya.