Special Plan: Bulog targetkan penyaluran 828 ribu ton beras SPHP sepanjang 2026

Bulog Targetkan Penyaluran 828 Ribu Ton Beras SPHP di 2026

Jakarta – Perusahaan Umum Bulog (BULOG) berkomitmen menyalurkan 828 ribu ton beras dari program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) sepanjang tahun 2026. Tujuan utama adalah memastikan ketersediaan beras nasional tetap terjaga serta mengendalikan fluktuasi harga di pasar. Direktur Utama BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan penugasan ini didasarkan pada Surat Kepala Badan Pangan Nasional Nomor:204/TS.03.03/K/2/2026, tertanggal 11 Februari 2026, yang menyebutkan penyaluran cadangan pangan pemerintah (CPP) untuk tahun 2026.

“Dasar hukum penugasan kami sesuai Perbadan Pangan Nasional Nomor 204 tanggal 11 Februari 2026. Total SPHP tahun ini sebesar 828 ribu ton yang harus kami salurkan,” ujar Rizal saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

BULOG menyalurkan beras secara langsung ke pasar rakyat untuk memastikan harga tetap terjangkau bagi masyarakat. Selain itu, distribusi juga dilakukan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) agar stan koperasi mendapatkan pasokan beras SPHP maupun premium secara berkelanjutan. Lebih lanjut, perusahaan turut berpartisipasi dalam Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama kementerian, lembaga, daerah, dan instansi lainnya untuk memudahkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.

Distribusi beras mencakup sekitar 80 ribu titik outlet yang dibina pemerintah daerah, koperasi badan usaha milik daerah, koperasi instansi pemerintah, serta Jaringan Rumah Pangan Kita (RPK). Selain itu, beras SPHP juga disalurkan ke swalayan dan toko modern untuk memperluas cakupan konsumen. Paket yang digunakan berupa kemasan 5 kg dengan kualitas medium, pecahan sekitar 25 persen, serta kadar air 14 persen sesuai standar pemerintah. Saat ini, kemasan 2 kg juga mulai disiapkan.

Harga beras SPHP diatur sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang berbeda berdasarkan wilayah. Untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), harga Rp12.500 per kilogram. Zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan) ditetapkan Rp13.100 per kg, sementara zona 3 (Maluku, Papua) dijual dengan HET Rp13.500 per kg.

Pola penyaluran SPHP 2026 berbeda dari tahun sebelumnya. Distribusi berlangsung tanpa jeda sepanjang tahun, dibandingkan dengan 2025 yang bersifat berkala sesuai kondisi panen. Target tahun ini menurun dibandingkan 2025, yang sempat ditetapkan mencapai 1,5 juta ton. Penyesuaian terjadi karena Januari hingga Februari 2026 masih menggunakan kuota sisa dari tahun sebelumnya.

Kemacetan distribusi pada 2025 terjadi saat masuk masa panen puncak. Penyaluran dihentikan sementara sejak Februari dan dilanjutkan kembali Juli hingga Desember, dengan realisasi mencapai 802.939 ton. Sisa kuota diperpanjang hingga awal 2026 untuk mempertahankan stabilitas harga. Rizal menegaskan, penyaluran tahun 2026 terus berjalan tanpa henti guna menjaga ketersediaan beras secara konstan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *