Special Plan: SUSTAIN sebut atap surya dan power wheeling percepat target 100 GW
SUSTAIN sebut atap surya dan power wheeling percepat target 100 GW
Jakarta – Sejumlah strategi, seperti penggunaan atap surya dan power wheeling, dinilai oleh Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) sebagai cara efektif untuk mencapai target energi surya 100 gigawatt (GW) yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam jangka pendek. Pendekatan ini, menurut Adila Isfandiari, Lead Researcher SUSTAIN, bisa mengurangi ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menghindari peningkatan utang pemerintah.
Investasi swasta dan masyarakat diperlukan
“Dengan melibatkan warga dan sektor industri, proyek energi surya 100 GW dapat dipercepat tanpa membebani APBN,” jelas Adila dalam pernyataannya di Jakarta, Senin. Ia menekankan bahwa skema ini bukan hanya memberi peluang baru bagi PLN, tetapi juga pastikan pasokan listrik hijau bagi perusahaan multinasional yang ingin menurunkan emisi.
“Dengan asumsi setiap rumah tangga memasang atap surya 1-2 kWp, sektor ini bisa menambah kapasitas sebesar 2,9 GWp hingga 5,8 GWp. Potensi ini bisa menjadi peningkatan cepat dalam waktu dekat, terutama karena tidak membutuhkan dana dari pemerintah,” ujar Adila.
Hingga akhir 2025, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia baru mencapai 15,75 persen, dengan total kapasitas 15.630 megawatt (MW). Energi fosil masih menjadi dominan, sekitar 85 persen. Untuk mencapai target 100 GW dalam dua tahun, laju pertumbuhan EBT harus meningkat hampir 50 kali lipat dibanding tren sebelumnya.
Dalam lima tahun terakhir, penambahan kapasitas energi terbarukan rata-rata hanya sekitar 1.025 MW per tahun. SUSTAIN menilai, percepatan pengembangan EBT sangat penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama menghadapi ketidakpastian global. Skema atap surya dan power wheeling dianggap solusi terbaik dalam menambah kapasitas listrik hijau secara cepat.
PLN tetap bertindak sebagai operator sistem dan penyedia jaringan, sementara investasi pembangkit didorong oleh swasta. Adila menambahkan bahwa peran pelanggan non-subsidi, khususnya rumah tangga R-2 dan R-3 yang mencapai 2,88 juta unit, sangat strategis. “Mereka bisa menjadi katalis utama dalam mempercepat peningkatan kapasitas EBT, sekaligus mengurangi beban pemerintah dan PLN,” ujarnya.
Peran kebijakan dalam percepatan
Adila menyoroti perlunya penguatan kebijakan, seperti deregulasi dan insentif, untuk mendorong partisipasi masyarakat dan sektor swasta. “Kebijakan yang mendukung atap surya serta power wheeling akan mempercepat pencapaian target 100 GW Prabowo,” tambahnya.