Tarif angkutan bus jadi penyumbang inflasi transportasi pada Lebaran

Tarif angkutan bus jadi penyumbang inflasi transportasi pada Lebaran

Jakarta – Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa harga tiket bus dan bahan bakar menjadi faktor utama kenaikan inflasi di sektor transportasi selama periode Lebaran 2026. Dalam konferensi pers Rilis BPS di Jakarta, Rabu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa setiap tahun selama Ramadan dan Lebaran selalu terjadi inflasi di kelompok transportasi, kecuali pada tahun 2025.

Pada Maret 2026, kelompok transportasi mencatatkan inflasi sebesar 0,41 persen (bulan ke bulan/mtm), berbanding terbalik dengan rekor deflasi 0,11 persen (mtm) yang terjadi di Februari 2026. Menurut Ateng, secara umum, inflasi transportasi cenderung lebih tinggi saat Lebaran dibandingkan awal Ramadan. Ia menambahkan, kenaikan harga tiket angkutan antarkota mencapai 12,46 persen (mtm) di bulan tersebut, berkontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.

“Deflasi ini terjadi seiring dengan penerapan stimulus ekonomi berupa diskon tarif transportasi di masa Lebaran Idul Fitri 2026,” ujar Ateng.

Sementara itu, harga bensin mengalami inflasi 0,98 persen (mtm), berdampak pada inflasi umum sebesar 0,04 persen. Di sisi lain, beberapa komoditas transportasi justru menekan inflasi karena mengalami deflasi. Contohnya, tarif angkutan udara turun 4,01 persen (mtm), memberi kontribusi negatif terhadap inflasi umum sebesar 0,03 persen.

Komoditas lain yang mengalami deflasi meliputi tarif jalan tol (0,87 persen), angkutan laut (7,45 persen), ASDP (3,17 persen), dan kereta api (3,18 persen). Secara keseluruhan, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Indonesia pada Maret 2026 sebesar 3,48 persen, sedangkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) mencapai 0,41 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 0,94 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *