Topics Covered: Ini kata Purbaya terkait relaksasi bea masuk bahan baku plastik
Ini Kata Purbaya Terkait Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, hingga kini belum ada ajakan dari industri plastik lokal untuk mengurangi tarif bea masuk. “Permintaan (kemudahan bea masuk) diajukan ke Kemenperin, lalu ke saya. Harga plastik naik karena bahan bakunya juga naik, tapi ketika turun, akan turun juga,” jelas Purbaya saat diwawancara di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu. Penegasan ini muncul dalam konteks kenaikan harga berbagai produk plastik di dalam negeri akibat gangguan impor bahan baku akut yang terjadi karena konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Kenaikan Harga dan Langkah Industri
Kenaikan harga terjadi sejak pekan kedua bulan Ramadan dan terus berlanjut setiap minggu. Menurut Purbaya, industri plastik perlu melakukan pembicaraan awal dengan Kemenperin sebelum mengajukan keringanan bea masuk bahan baku seperti nafta dan LPG. Ia menambahkan, kenaikan harga plastik bersifat sementara karena dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku global. Faktor utama yang memengaruhi ini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang menyebabkan peningkatan biaya logistik.
“Seandainya ada kebijakan pun, pasti akan kami pertimbangkan. Tapi mereka belum ke saya, jadi saya nggak tahu,”
katanya. Purbaya juga menyatakan bahwa belum ada komunikasi langsung dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita untuk membahas isu plastik. Sebelumnya, Agus menegaskan pemerintah terus mendorong diversifikasi bahan baku dan pemanfaatan daur ulang guna menjaga ketersediaan plastik nasional di tengah tekanan kondisi global.
Respons Kemenperin dan Pasokan Bahan Baku
Menanggapi dinamika harga dan pasokan bahan baku, Agus menjelaskan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mengganggu rantai pasok industri petrokimia global, terutama komoditas nafta sebagai bahan baku utama plastik. Sebagai respons, Kemenperin bersama pelaku industri hulu petrokimia mengambil beberapa langkah strategis untuk menjaga kelangsungan produksi dalam negeri. Salah satu upaya adalah memperluas sumber pasokan bahan baku. Selain itu, optimalisasi penggunaan LPG juga dilakukan sebagai alternatif dalam proses produksi.
Kondisi Impor dan Tarif Saat Ini
Menurut data ANTARA, April 2026 menjadi periode sulit bagi industri plastik domestik karena lonjakan harga bijih plastik di pasar dalam negeri melonjak hingga 30-70 persen. Hal ini sangat menghancurkan pelaku UMKM dan industri pengemasan. Sebagian besar pasokan petrokimia global, sekitar 22 persen, berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Ketegangan geopolitik di wilayah tersebut menghambat arus impor bahan baku ke Indonesia, sehingga pasokan menjadi langka dan mahal.
Secara umum, Indonesia hingga kini masih mengimpor plastik dalam jumlah besar. Per Februari 2026, nilai impor mencapai sekitar Rp14,84 triliun dengan pemasok utama berasal dari China, Thailand, dan Korea Selatan. Tarif bea masuk untuk polimer utama (bijih plastik) sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) berada di kisaran 5-10 persen, baik untuk polietilena (PE), polipropilena (PP), maupun polivinil klorida (PVC).