Topics Covered: Pemerintah perluas sumber pasokan energi di tengah gangguan distribusi

Pemerintah Memperluas Sumber Pasokan Energi Saat Distribusi Global Terganggu

Jakarta, Jumat – Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, mengungkapkan bahwa di tengah risiko gangguan distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz, pemerintah sedang mengembangkan alternatif pasokan dari berbagai wilayah. “Selain jalur distribusi yang melewati Selat Hormuz, kita juga mencari sumber lain seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah,” jelas Hendra dalam wawancara di Jakarta.

Upaya ini tidak hanya berupa perluasan impor, tetapi juga peningkatan produksi dalam negeri. Menurut Hendra, langkah optimasi produksi lokal bertujuan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar. Hal ini mencakup realokasi sebagian hasil produksi minyak mentah dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) ke kebutuhan domestik. “Ditjen Migas sedang mengevaluasi semua KKKS untuk mengalihkan ekspor yang dibutuhkan di dalam negeri, sekaligus memaksimalkan sumber daya lokal untuk BBM dan LPG,” tambahnya.

Analisis Pengaruh Harga BBM Terhadap Ketahanan Energi

“Dengan asumsi harga Indonesia Crude Price (ICP) di ABPN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, dibandingkan dengan harga rata-rata saat ini, terjadi perbedaan harga yang signifikan,” ujar Komaidi Notonegoro, pengamat energi dan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute.

Komaidi menyoroti bahwa kebijakan pemertahanan harga BBM bisa dipahami untuk melindungi masyarakat, tetapi berpotensi mengurangi ketahanan energi nasional. Berdasarkan perhitungan, masing-masing produk BBM memiliki selisih harga jual antara Rp5.000 hingga Rp9.000 per liter dibanding nilai ekonominya. Dengan volume penjualan Pertamina mencapai 72-75 juta kiloliter per tahun, atau sekitar 200 ribu kiloliter per hari, tambahan dana diperlukan sebesar Rp1,5-2 triliun per hari, yang dalam sebulan mencapai Rp60 triliun.

“Berapa bulan Pertamina bisa bertahan dengan cashflow yang ada? Belum lagi harus membayar cicilan pokok dan bunga utangnya,” tambah Komaidi.

Pertamina di Tengah Kondisi Pasar yang Tidak Pasti

Muhammad Kholid Syeirazi, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), menegaskan bahwa dalam situasi pasar yang turbulen, memiliki dana tetapi tidak memiliki produk minyak mentah tidak cukup. “Saat ini, Pertamina dalam kondisi sulit. Di satu sisi, barang yang dibutuhkan sangat kompetitif. Di sisi lain, harga ICP dalam APBN 2026 ditetapkan 70 dolar AS per barel, meski di pasar global harganya sudah melebihi 100 dolar AS per barel,” jelas Kholid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *