Facing Challenges: China desak penghentian segera operasi militer terkait konflik Iran
Beijing – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, Selasa (7/4), mengatakan, pihaknya mendesak penghentian segera operasi militer terkait konflik Iran dan secepatnya kembali ke dialog dan negosiasi. Menurut Mao, hal itu penting dilakukan demi menyelesaikan masalah secara mendasar dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk. "Penggunaan kekuatan tidak akan membawa perdamaian.
Penyelesaian politik merupakan langkah yang tepat ke depan. Akar permasalahan konflik ini adalah peluncuran serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional," ujar Mao. Dia menambahkan, semua pihak perlu menunjukkan ketulusan dan segera mengakhiri perang yang seharusnya tidak terjadi sejak awal.
Beberapa pekan setelah pecahnya konflik Iran, kedua pihak terus saling melancarkan serangan militer. Penutupan Selat Hormuz pun memicu kekhawatiran luas dan seruan untuk gencatan senjata dan jalur pelayaran yang aman semakin menguat. Amerika Serikat (AS) dan Iran juga saling melontarkan retorika keras dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah sumber menyebutkan kedua pihak kemungkinan akan mencapai kesepakatan gencatan senjata. Situasi di Timur Tengah terus memburuk dan konflik militer masih meningkat, sehingga berdampak pada ekonomi dunia dan keamanan energi serta memicu kekhawatiran mendalam dari komunitas internasional, kata Mao dalam konferensi pers rutin. Mao menyebut, sejak konflik tersebut pecah, China telah mengambil sikap yang objektif, adil, dan seimbang, serta berupaya membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri gejolak.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi melakukan 26 pembicaraan via telepon dengan berbagai pihak, termasuk Iran, Israel, Rusia, dan negara-negara Teluk. Utusan khusus pemerintah China untuk masalah Timur Tengah telah melakukan perjalanan ke kawasan itu dalam upaya mediasi. Pekan lalu, China dan Pakistan mengeluarkan inisiatif lima poin, yang mencerminkan konsensus internasional untuk gencatan senjata dan perdamaian.