Topics Covered: Presiden Kuba tegaskan tak akan mundur di tengah tekanan AS

Presiden Kuba tegaskan tak akan mundur di tengah tekanan AS

Istanbul – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri meski tengah menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari Amerika Serikat (AS). Ia menekankan bahwa kepemimpinan negara sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Kuba. Dalam wawancara NBC News yang ditayangkan pada hari Kamis (9/4), Diaz-Canel menolak ajakan untuk mengundurkan dirinya, menegaskan bahwa Kuba adalah negara berdaulat yang tidak tunduk pada pengaruh luar.

“Di Kuba, mereka yang menduduki posisi kepemimpinan tidak dipilih oleh Pemerintah Amerika Serikat,” katanya. Tambahkan Diaz-Canel bahwa pengunduran diri dari jabatan “bukan bagian dari kosakata kami”.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Trump terhadap Havana. Beberapa pejabat AS menyerukan perubahan politik dan ekonomi di Kuba, yang menganut sistem komunis. Seorang pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa Washington percaya kesepakatan dengan Kuba masih bisa dicapai, meski menganggap negara itu sebagai “negara yang gagal”.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengkritik sistem ekonomi Kuba, menegaskan bahwa perubahan besar hanya bisa terjadi melalui perubahan kepemimpinan dan tata kelola. “Kuba hanya bisa berhasil jika warganya meninggalkan negara itu,” kata Rubio.

Diazz-Canel membalas dengan mempertanyakan apakah tuntutan serupa akan diterapkan kepada para pemimpin Amerika Serikat, sekaligus menuduh Washington mencoba campur tangan dalam urusan dalam negeri Kuba.

Kuba saat ini menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan, ditunjukkan oleh kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik bergilir, dan pembatasan akses terhadap pangan serta obat-obatan. Pemerintah Kuba mengklaim kondisi tersebut diakibatkan oleh sanksi AS yang berlangsung bertahun-tahun, sementara pihak AS menilai akar masalahnya terletak pada struktur ekonomi yang mendasar.

Faktor-faktor baru memperparah situasi, seperti pengurangan pasokan minyak dari Venezuela dan gangguan logistik yang menyebabkan pemadaman listrik secara meluas. Meskipun hubungan antara kedua pihak memanas, mereka sepakat bahwa ada komunikasi terbatas. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba mengatakan bahwa diskusi untuk mengurangi ketegangan masih dalam tahap awal.

Sebelumnya, pada 29 Maret lalu, Trump menyatakan bahwa Kuba akan menjadi “target berikutnya” setelah operasi militer terhadap Iran. Ia juga memperingatkan bahwa Kuba akan segera runtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *