UNHCR: Lebanon diserang Israel dengan dahsyat tanpa peringatan
UNHCR: Lebanon Diserang Israel dengan Dahsyat Tanpa Peringatan
Jenewa – Krisis Kemanusiaan di Lebanon
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) memperingatkan adanya krisis kemanusiaan yang semakin parah di Lebanon akibat serangan Israel terbesar sejak konflik berlangsung. Pada Rabu (8/4), sekitar 100 lokasi mengalami serangan dalam waktu 10 menit tanpa peringatan, termasuk daerah padat penduduk di Beirut yang menjadi tempat penampungan ribuan warga mengungsi.
Impact on Civilians and Infrastructure
Menurut Eujin Byun, juru bicara UNHCR, beberapa area yang sebelumnya dianggap aman juga rusak, memicu kepanikan dan memaksa warga mengungsi lebih dari sekali. Kerusakan pada infrastruktur kritis, seperti Jembatan Qasmiyeh, semakin membatasi akses antara wilayah selatan dan utara.
“Tidak mungkin untuk kembali karena seluruh komunitas telah hancur sebagian atau sepenuhnya,” katanya.
Humanitarian Needs and Escalation
Byun menyebut sekitar 150.000 orang masih berada di Lebanon selatan dengan akses bantuan yang terbatas. Ia menekankan bahwa kebutuhan bantuan kemanusiaan meningkat drastis, dan akses ke warga terdampak semakin sulit. Selain itu, bantuan menjadi sangat penting bagi mereka yang membutuhkan jalur aman untuk larikan diri.
UNHCR’s Response and Refugee Figures
UNHCR mengatakan bahwa seluruh warga sipil di Lebanon harus dilindungi dari serangan-serangan semacam itu. Diperkirakan sekitar 1 juta orang telah mengungsi, dengan 35 persen di antaranya adalah anak-anak. Sampai saat ini, organisasi tersebut telah memberikan bantuan kepada lebih dari 151.000 pengungsi di tempat penampungan serta 31.000 orang di wilayah sulit dijangkau.
Lebih lanjut, UNHCR juga menolong lebih dari 250.000 warga yang menyeberang ke Suriah. Serangan Israel terbaru mengubah skenario kemanusiaan di Lebanon menjadi lebih rumit, dengan peningkatan jumlah warga yang terus bergerak mencari perlindungan di luar negeri.