Latest Update: Serangan Iran Pangkas Produksi Minyak Saudi 600.000 Barel per Hari
Serangan Iran Pangkas Produksi Minyak Saudi 600.000 Barel per Hari
Riyadh mengalami penurunan kapasitas produksi minyak setelah serangan terhadap fasilitas energi. Upaya ini menyebabkan pengurangan produksi harian sebesar 600.000 barel, serta merusak jalur pipa strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke Laut Merah. Kerusakan tersebut memperparah ketidakstabilan pasokan energi global, yang kini mulai memengaruhi dinamika pasar pupuk internasional.
Dampak Terhadap Pasar Internasional
Kejadian ini memperkuat tekanan terhadap harga komoditas energi. Minyak mentah WTI melonjak lebih dari 3% menjadi USD97,87 per barel, sementara Brent naik ke USD95,92 per barel. Penurunan produksi mencapai sekitar 13 juta barel per hari dari negara-negara di wilayah Teluk.
Penyebab Penurunan Produksi
Laporan Bloomberg, yang mengutip Kantor Berita Saudi (SPA), menyebutkan serangan terhadap Manifa dan Khurais menjadi faktor utama. Selain itu, serangan terpisah pada stasiun pompa jalur pipa East-West mengurangi distribusi sebanyak 700.000 barel per hari. Jalur ini menjadi alternatif vital untuk menghindari penghalang di Selat Hormuz.
“Jika konflik terus berlanjut, para petani mungkin akan membatasi luas lahan pertanian atau penggunaan pupuk, yang berpotensi menurunkan hasil panen dan mendorong kenaikan harga pangan,” tulis laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).
Kenaikan Harga Pangan dan Input Pertanian
Kenaikan harga energi yang tak terkendali langsung memengaruhi biaya produksi input pertanian. Pupuk nitrogen, misalnya, melonjak 32,4% sejak konflik dimulai. FAO mencatat indeks harga pangan global naik 2,4% secara bulanan, menandai tren kenaikan dua bulan berturut-turut.
Situasi semakin memanas setelah Kuwait melaporkan serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan infrastruktur minyak dan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas keamanan di wilayah tersebut masih rentan. Meski kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran diumumkan pada 7 April 2026, eskalasi serangan tetap terjadi.
Sebagai akibat, 40% kapal global kini memilih bahan bakar di Bunker Mauritius sebagai alternatif. Ini mencerminkan ketidakpercayaan pasar terhadap stabilitas pasokan di kawasan Teluk Persia.