Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya

Mengapa Harga BBM di AS Tetap Mahal hingga Tembus Rp100 Ribu meski Produksi Melimpah? Ini Sebabnya

Amerika Serikat (AS) kini berada di puncak produksi minyak mentah dunia, menghasilkan lebih dari 13 juta barel per hari. Namun, keadaan di pasar bahan bakar minyak (BBM) menunjukkan harga bensin melonjak tajam, mencapai rata-rata USD4,16 per galon pada awal April 2026—sekitar Rp70.623. Meski produsen lokal memiliki pasokan melimpah, harga BBM tetap terus naik, mengejutkan banyak pihak.

Kebijakan AS yang selama ini dikenal tidak bergantung pada minyak Timur Tengah, seperti yang disampaikan Presiden Donald Trump dalam berbagai pidato, justru memicu pertanyaan. Tahun lalu, perang antara AS dan Iran menyebabkan gangguan pada jalur pasokan minyak, termasuk Selat Hormuz. Peristiwa ini berdampak signifikan pada harga internasional, meskipun produksi dalam negeri terus meningkat.

Pasokan Global dan Hukum Satu Harga

Berdasarkan data, Trump benar. AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia, tetapi minyak mentah tetap bersifat komoditas global.

“Jika sebuah tanker bisa mendapatkan harga lebih tinggi di Malaysia daripada di Rotterdam atau Rio de Janeiro, maka kapal itu akan pergi ke Malaysia,”

ungkap Mark Zandi, kepala ekonom di Moody’s Analytics.

Dengan pasokan yang terganggu, harga minyak dunia—seperti indeks WTI—naik drastis dari USD67 menjadi USD105 per barel. Produsen di Texas memilih menjual ke pasar internasional dengan harga yang lebih tinggi, bukan kepada konsumen lokal, meskipun produksi dalam negeri melimpah.

Padahal, AS hanya mengimpor 8% minyak dari Timur Tengah. Namun, perubahan dinamika global membuat harga BBM terus menanjak, menguras kantong konsumen. Meskipun tidak lagi bergantung pada pasokan luar, faktor eksternal seperti perang tetap memengaruhi pasar, menjadikan harga bahan bakar tak terhindarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *