New Policy: Optimalisasi Limbah Sawit Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
Optimalisasi Limbah Sawit Mampu Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional
JAKARTA – Menurut Dr. Basuki Sumawinata, ahli tanah dari IPB University, memaksimalkan penggunaan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada pupuk kimia impor. Limbah ini, kata Basuki, seharusnya tidak lagi dilihat sebagai bahan yang dibuang, melainkan sebagai nutrisi penting yang bisa diberikan kembali ke tanah pertanian.
BOD Sebagai Indikator Penting
Dalam setiap produksi 50 juta ton minyak sawit, Indonesia menghasilkan sekitar 100 juta ton LCPKS per tahun. Nilai Biological Oxygen Demand (BOD) rata-rata limbah tersebut mencapai 25.000 ppm. BOD mengukur kadar oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk mencerna bahan organik di lingkungan pertanian.
“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah ini bisa menjadi pengganti sebagian pupuk kimia yang saat ini masih mengandalkan impor. LCPKS mengandung unsur hara lengkap, seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, hingga mikronutrien. Ini adalah sumber nutrisi alami yang sangat berharga untuk kebun sawit,” ujar Basuki dalam pernyataannya, Minggu (12/4/2026).
Penggunaan Biodiesel B50 dan Dampaknya
Basuki menjelaskan bahwa kandungan bahan organik tinggi dalam LCPKS menjadikannya sebagai bahan karbon organik utama bagi tanah. Tanpa nutrisi ini, tanah kehilangan daya dukung biologisnya, menyebabkan penurunan produktivitas kebun secara berkelanjutan. Akibatnya, petani dan perusahaan perkebunan semakin tergantung pada pupuk kimia.
Peneliti dari UI menambahkan bahwa implementasi biodiesel B50 memerlukan peningkatan produksi sawit di sektor hulu. Dengan memanfaatkan LCPKS secara optimal, ketergantungan pada pupuk impor bisa dikurangi, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi nasional melalui sirkulasi sumber daya lokal.