Rupiah Diprediksi Tak Bertaji Pekan Depan di Atas Rp17.000
Rupiah Diperkirakan Terus Melemah di Pekan Depan, Tertopang di Rp17.000
JAKARTA – Kurs rupiah diperkirakan masih terpantau melemah pada pekan depan, tetap berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Ketidakpastian global, khususnya karena perluasan konflik di wilayah Timur Tengah, menjadi penyebab utama fluktuasi pasar keuangan. Menurut analisis Ibrahim Assuaibi, pakar mata uang dan komoditas, pelemahan rupiah kemungkinan besar akan bertahan di atas level 17.000.
Kondisi Global Memperparah Tekanan
Pelaku pasar saat ini fokus pada dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Ibrahim menyoroti bahwa hasil negosiasi kedua pihak akan memengaruhi harga minyak dan tingkat inflasi dunia dalam waktu dekat. Jika tercapai kesepakatan, harga energi berpotensi turun, sehingga mampu mengurangi tekanan inflasi dan memberi ruang bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga.
“Jika konflik berlanjut dan jalur distribusi minyak terganggu, harga energi akan naik, dolar menguat, dan inflasi meningkat,” kata Ibrahim.
Ketidakpastian geopolitik juga semakin memburuk akibat dukungan persenjataan dari Tiongkok kepada Iran. Hal ini memicu kenaikan harga emas sebagai aset perlindungan. Di sisi lain, tren peningkatan cadangan emas oleh bank sentral global menunjukkan peningkatan permintaan terhadap logam mulia, sebagai upaya mengurangi risiko ekonomi yang kian tinggi.
Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Capai Rp17.104 per USD
Kurs rupiah hari ini menyentuh level Rp17.104 per dolar AS, mencerminkan ketidakstabilan yang masih terjadi. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, yang terus mendorong pergeseran alur modal internasional. Pergerakan pasar global juga diperkirakan mengalami perubahan tajam, seiring potensi pelebaran rentang Indeks Dolar AS hingga 101,000.
Dalam analisis teknikal, indeks dolar AS berpotensi bergerak antara support 97,00 hingga resistance 100,90. Penguatan dolar menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang.