Key Discussion: Kerja sama keuangan RI-China perkuat ketahanan ekonomi
Kerja sama keuangan RI-China perkuat ketahanan ekonomi
Kerja sama keuangan antara Indonesia dan Tiongkok semakin menjadi fokus dalam upaya meningkatkan daya tahan perekonomian nasional di tengah ketidakpastian eksternal. Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, mengungkapkan bahwa peningkatan efisiensi dalam perdagangan serta investasi bisa dicapai melalui kolaborasi ini, sekaligus mendorong kepercayaan dan likuiditas yang lebih stabil bagi Indonesia.
“Perubahan dalam pola perdagangan sedang terjadi, seiring penyesuaian rantai pasok yang sedang diatur ulang, serta selektivitas lebih tinggi dalam aliran modal,” kata Luhut dalam dialog bisnis multilateral di Jakarta, Jumat (dikutip oleh Kantor Berita Xinhua, Senin).
Kepala Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa penguatan kerja sama regional, termasuk sistem jaring pengaman keuangan kawasan yang lebih kredibel, menjadi penting dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Luhut menekankan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dapat mengurangi biaya, memastikan kepastian, dan menekan risiko fluktuasi nilai tukar.
Indonesia dan Tiongkok telah memperbarui perjanjian pertukaran mata uang pada Januari 2025 dengan memperluas nilai jalur pertukaran menjadi 400 miliar yuan. Mekanisme Local Currency Settlement (LCS) yang diperkenalkan pada 2021 kini ditingkatkan menjadi Local Currency Transaction (LCT) pada 2025, mencakup seluruh bidang neraca pembayaran.
Dalam kerangka LCT Indonesia-China, serta mekanisme serupa dengan Indonesia-Thailand-Malaysia, Bank of China berperan sebagai pembuat pasar lintas mata uang yang terotorisasi. Institusi tersebut telah menangani transaksi mata uang lokal untuk sekitar 200 perusahaan dari kedua negara. Bank ini juga berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan otoritas keuangan dan regulator lokal.
Kinerja perdagangan dan investasi bilateral
Dalam kesempatan yang sama, Li Hongwei, Minister Counselor Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, menyatakan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Tiongkok mencapai 167,49 miliar dolar AS pada 2025, melampaui target 150 miliar dolar AS. Investasi langsung dari Tiongkok ke Indonesia mencapai 7,5 miliar dolar AS.
Li menegaskan bahwa institusi keuangan kedua negara telah membentuk sistem layanan keuangan multi-tier yang mendukung proyek kerja sama strategis. Mekanisme ini tidak hanya memperkuat stabilitas ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang gerak yang lebih luas bagi pertumbuhan perekonomian dalam kondisi dinamis.