Key Issue: Mesin pertanian pintar China temukan peluang smakin Besar di ASEAN

Mesin Pertanian Pintar Tiongkok Temukan Peluang Semakin Besar di ASEAN

Nanning, 2025 – Dengan datangnya musim panen kelapa sawit di Indonesia, kendaraan pengangkut buah dari Tiongkok mulai beroperasi di berbagai perkebunan lokal. Alat-alat tersebut mampu melewati medan sulit secara efektif, sekaligus membantu mengurangi biaya dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Kendala di Perkebunan Indonesia

“Perkebunan kelapa sawit di sini memiliki luas yang luar biasa, sering kali mencakup ribuan hektare, dan jalan umumnya berupa jalur kerikil. Alat tradisional sering mengalami kerusakan cepat,” jelas Huang Qinghua, salah satu asisten ketua perusahaan tersebut.

“Sebelumnya, peralatan transportasi di banyak perkebunan ASEAN bergantung pada merek AS dan Jepang, yang tidak selalu cocok dengan kondisi geografis lokal dan biasanya rusak dalam waktu setengah tahun penggunaan,” tambahnya.

Perkembangan Mekanisasi Tiongkok

Dalam beberapa tahun terakhir, mekanisasi pertanian di Tiongkok berkembang pesat. Pada 2025, tingkat mekanisasi untuk pengolahan lahan, penanaman, dan panen mencapai 76,7 persen. Jumlah drone pertanian melebihi 300.000 unit, dengan luas area operasi tahunan melebihi 460 juta mu (1 mu = 0,0667 hektare).

Penerapan Teknologi Digital

Di Guangxi, salah satu daerah utama penghasil gula di Tiongkok, medan berbukit sebelumnya menyulitkan penggunaan mekanisasi. Namun, mesin cerdas dan teknologi digital kini meningkatkan efisiensi pertanian secara signifikan. Di sebuah basis tebu di Laibin, sensor di bawah tanah memantau pH tanah, kelembapan, dan nutrisi secara terus-menerus.

“Melalui survei tanah digital, pupuk dapat diberikan sesuai kebutuhan aktual,” ujar Wang Zeping, peneliti dari Akademi Ilmu Pertanian Guangxi.

Terapan ini mengurangi penggunaan pupuk hingga 15 persen, sementara hasil panen meningkat 200 kilogram per mu. Hasilnya, biaya operasional turun dan pertanian lebih ramah lingkungan.

Potensi Pasar ASEAN

Dares Kittiyopas, presiden Thai Society of Agricultural Engineering, menyatakan dalam konferensi kerja sama Tiongkok-ASEAN di akhir 2025 bahwa Thailand menghasilkan berbagai buah tropis, seperti durian, manggis, dan lengkeng, namun proses panen, pengemasan, dan analisis kualitas masih manual. “Kami sangat membutuhkan mesin canggih untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas,” katanya.

Dares menambahkan, penurunan tenaga kerja pertanian di Thailand mempercepat transisi menuju mekanisasi. Negara tersebut menunjukkan permintaan tinggi terhadap alat perlindungan tanaman, traktor, serta suku cadangnya. Dengan tingkat mekanisasi yang meningkat, mesin Tiongkok semakin menarik perhatian pasar ASEAN, terutama di negara-negara dengan kondisi geografis serupa dengan daerah berbukit di Tiongkok selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *